
Foto: Tampak Kondisi Nyata Jalur Lalulintas Dari dan Menuju Pelabuhan Petikemas International Belawan Yang Sangat Memprihatinkan.
MITRAPOLDA.COM, Belawan – Sebagai urat nadi perekonomian Sumatera Utara, Pelabuhan Internasional Belawan memikul mandat besar sebagai gerbang logistik dunia. Setiap tahun, triliunan rupiah nilai komoditas melintas dari dan menuju pelabuhan ini. Namun ironi justru tampak jelas di akses utamanya.
Dari Kawasan Kampung Salam hingga menuju Gate 3, kondisi jalan rusak parah dan berlubang dalam. Aspal mengelupas, lubang menganga bak “Ranjau Darat” yang mengintai setiap kendaraan yang melintas. Ketika hujan turun, genangan air menyamarkan kerusakan jalan, menjebak pengendara yang tak menyadari bahaya di balik permukaan air keruh.
Situasi ini menciptakan paradoks yang menyakitkan. Di satu sisi, Belawan digadang-gadang sebagai simpul perdagangan internasional; di sisi lain, akses vitalnya justru menyerupai jalur tak bertuan. Truk kontainer, Truk tangki, hingga kendaraan roda dua terpaksa melambat ekstrem, bahkan zig-zag menghindari lubang demi menjaga keselamatan.

Foto: Megah dan Mewah nya Gedung Pusat Pelindo Regional 1 dan Holding Pelindo Multi Terminal (PMT), Belawan News Continer Terminal (BNCT). Tak Selaras Dengan Akses Menuju Pelabuhan nya.
Ayun, seorang pengusaha angkutan yang kerap menyoroti dinamika kawasan Belawan, melontarkan kritik tajam atas pembiaran yang dinilai telah berlangsung menahun.
> “Sangat ironis. Bagaimana kita bisa bicara tentang daya saing global jika akses menuju pelabuhan internasionalnya saja menyerupai kubangan? Ini bukan lagi sekadar soal kenyamanan, melainkan soal kemanusiaan dan martabat daerah,” tegasnya.
Menurutnya, kerusakan infrastruktur tersebut mencerminkan ketimpangan komitmen antara ambisi besar pembangunan dan realitas di lapangan. Para sopir kontainer yang dijuluki “pejuang aspal” harus berjibaku setiap hari, mempertaruhkan keselamatan dan kondisi kendaraan mereka.
Tak hanya soal keselamatan, dampak domino pun mulai terasa. Laju kendaraan yang melambat akibat jalan rusak membuka celah bagi oknum tak bertanggung jawab untuk melakukan pungutan liar (pungli) secara paksa. Situasi ini semakin menekan para sopir dan pelaku usaha logistik yang sudah dibebani biaya operasional tinggi.
Kerusakan jalan juga berdampak langsung pada distribusi barang. Waktu tempuh bertambah, risiko kerusakan kendaraan meningkat, dan biaya perawatan melonjak. Pada akhirnya, beban tersebut berpotensi dibebankan kepada konsumen dan memengaruhi stabilitas harga komoditas.
Para pengguna jalan berharap adanya langkah konkret dan cepat dari pihak terkait—baik pemerintah daerah, otoritas pelabuhan, maupun instansi teknis—untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh dan berkelanjutan. Akses menuju pelabuhan strategis nasional tidak seharusnya menjadi ancaman bagi keselamatan publik.
Belawan adalah wajah Sumatera Utara di mata dunia. Jika gerbang logistik internasional dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan, maka bukan hanya aspal yang retak—kepercayaan dan citra daerah pun ikut tergerus.
(MDR)







