Menu

Mode Gelap
Bukan Penglaris: Mengungkap Makna Tersembunyi di Balik Foto Legendaris Ungku Saliah di Rumah Makan Padang Gema Takbir Membahana, Ribuan Peserta Meriahkan Pawai Keliling di Kecamatan Belawan Jelang Idul Fitri 1447 H, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan Umumkan Jadwal Libur dan Aturan Baru Penggunaan Gawai Yayasan Bagas Godang Siabu Gelar Santunan Anak Yatim Pemko Medan Matangkan Persiapan Sholat Idul Fitri, Takbiran dan Pawai Kendaraan Digelar di Dua Titik WJMB Minta Tegas & Hukum Faskes Yang Menolak Pasien Darurat; Banyak Faskes Belum Faham UU Kesehatan

Hukum

Teror Pers di Aceh: Dua Wartawan Diserang, Anak Trauma, Negara Diam Kota Kriminal

badge-check


					Teror Pers di Aceh: Dua Wartawan Diserang, Anak Trauma, Negara Diam Kota Kriminal Perbesar

Aceh Tengah | mitrapolda.com

Dua insiden dalam sepekan terakhir mengguncang dunia pers di Aceh. Seorang wartawan dianiaya di depan anak-anaknya di Aceh Tengah. Di Subulussalam, rumah wartawan lain diteror di tengah malam. Dua peristiwa berbeda, tapi nadanya sama: teror terhadap kebebasan pers—dan diamnya negara.

Malam Teror dan Anak-Anak yang Trauma

Senin, 7 Oktober 2025. Malam di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Aceh Tengah, seharusnya tenang. Tapi di rumah seorang wartawan lokal, suasana berubah mencekam. Pria itu diserang oleh orang yang diduga Reje Kampung (Kepala Desa) berinisial A. Pukulan dan teriakan menjadi tontonan paksa bagi empat anak kecil di rumah itu.

Mereka masih kecil—Muhamad Alfarezi (3,5 tahun), Ahmad Yuda (7), Diandra Alfirian (11), dan Suci Anastasya Futri (14). Kini mereka menolak tidur sendiri, takut keluar rumah, dan sering menangis tiba-tiba. Psikolog belum datang. Pemerintah belum hadir.

“Tiap malam, anak-anak itu mimpi buruk,” kata salah satu anggota keluarga korban kepada Tempo. “Kami sudah lapor, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut serius.”

Subulussalam: Mobil Dilempar Batu, Wartawan Ketakutan

Kamis dini hari, 17 Oktober 2025. Di Subulussalam, dua pria tak dikenal melempar batu ke mobil milik Syahbudin Padank, wartawan senior 1kabar.com sekaligus Wakil Ketua DPW FRN Counter Polri Aceh. Kaca mobil pecah, anak-anak menjerit ketakutan, dan para tetangga berhamburan keluar rumah.

“Ini bukan vandalisme biasa. Ini pesan teror,” kata salah satu jurnalis di Subulussalam yang enggan disebut namanya.
Hingga berita ini ditulis, pelaku belum tertangkap. Polisi hanya mengatakan “masih dalam penyelidikan.”

Prof. Sutan Nasomal: Demokrasi Kita Sedang Sekarat

Pakar hukum pidana internasional, Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH., menyebut dua insiden ini sebagai “alarm keras atas matinya fungsi negara.”

> “Kekerasan terhadap wartawan bukan sekadar tindak pidana. Ini pelanggaran terhadap konstitusi dan hak asasi manusia,” kata Prof. Sutan dalam wawancara via telepon, Jumat (18/10).
“Jika Presiden tidak bersuara, maka itu restu diam-diam atas kekerasan terhadap pers.”

Menurutnya, sikap negara yang lamban adalah bentuk pembiaran sistematis terhadap erosi demokrasi. “Wartawan adalah penjaga nalar publik. Menyerang mereka berarti menyerang hak rakyat untuk tahu.”

Trauma yang Tak Bisa Ditebus

Bagi Prof. Sutan, tanggung jawab negara tak berhenti pada penangkapan pelaku. Negara harus memulihkan trauma anak-anak korban.

> “Kalau terbukti, pelaku harus dijerat pasal berlapis. Anak-anak saksi kekerasan harus mendapat pendampingan psikologis,” ujarnya.
“DP3A, LPSK, dan lembaga sosial seharusnya sudah turun sejak hari pertama.”

Namun hingga kini, tak satu pun lembaga resmi datang memberikan trauma healing. Anak-anak masih menanggung ketakutan sendirian.

Desakan untuk Presiden dan Kapolri

Prof. Sutan menyerukan langkah nyata dari Presiden Joko Widodo dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

> “Ini bukan isu lokal, tapi krisis nasional. Presiden harus bersuara. Kalau diam, rakyat berhak bertanya: di pihak siapa negara berdiri?” ujarnya.

Ia mengingatkan, UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menjamin kebebasan jurnalis, dan setiap tindakan kekerasan terhadap wartawan merupakan pelanggaran konstitusional.

Organisasi Pers: Jangan Tunggu Ada yang Mati

Sejumlah organisasi wartawan di Aceh juga angkat suara. Mereka menyebut dua peristiwa ini sebagai bukti bahwa aparat gagal menjamin keselamatan jurnalis.

> “Jika kekerasan terhadap wartawan dibiarkan, yang mati bukan hanya profesi jurnalis, tapi juga akal sehat demokrasi,” kata salah satu perwakilan organisasi pers di Aceh Tengah.

Aceh Tengah dan Subulussalam adalah dua titik luka dalam peta kebebasan pers Indonesia. Ketika wartawan dipukul, mobilnya dirusak, dan anak-anak mereka trauma—sementara negara memilih diam—maka yang sedang mati bukan hanya keberanian individu, melainkan ruh demokrasi itu sendiri.

> “Jangan tunggu wartawan mati baru negara bersuara,” tegas Prof. Sutan.
“Jangan tunggu anak-anak ini kehilangan masa depannya baru birokrasi bertindak.”

NARASUMBER:
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH.
Pakar Hukum Pidana Internasional

Penulis Antoni Tinendung

Baca Lainnya

Fraksi PDIP DPRD Sumut Minta BPK-RI Audit Lapangan Merdeka

3 Maret 2026 - 22:10 WIB

Beranikah Polda Riau Tangkap Makelar Kasus di Riau

24 Februari 2026 - 21:46 WIB

Polsek Salapian Ungkap Kasus Peredaran Narkotika di Desa Turangi, Satu Pelaku Diamankan

20 Januari 2026 - 02:04 WIB

Polsek Kuala Ungkap Kasus Pengrusakan dan Pemerasan, Kapolres Langkat Apresiasi Kinerja Personel

9 Januari 2026 - 13:34 WIB

Analisis Hukum Progresif Pascabencana Alam

26 Desember 2025 - 14:41 WIB

Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Ali Imran, Perwira Asal Kopassus Putra Aceh Bubarkan Massa Pengibar Bulan Bintang

26 Desember 2025 - 12:09 WIB

Polsek Padang Tualang Amankan Terduga Pelaku Pembunuhan di Desa Buluh Telang

23 Desember 2025 - 11:47 WIB

Terkait Insiden di Polsek Batang Gadis Madina, Ini Pernyataan Resmi Divisi Propam Mabes Polri

22 Desember 2025 - 22:33 WIB

Polsek Padang Tualang Ungkap Kasus Pencurian Sepeda Motor, Dua Pelaku Diamankan

21 Desember 2025 - 01:22 WIB

Hadir dalam Rakor Pencegahan dan Penyelesaian Tindak Pidana Pertanahan, Plt. Wakil Jaksa Agung Minta Pencegahan Diperkuat

4 Desember 2025 - 22:38 WIB

Sat Res Narkoba Polres Langkat Tangkap Pelaku Penyalahgunaan Narkotika Jenis Pil Ekstasi

21 November 2025 - 21:10 WIB

Pemkab Pakpakbharat Hadiri MoU Kejatisu dengan Seluruh Kepala Daerah di Sumatera Utara

20 November 2025 - 22:47 WIB

Lagi Menunggu Pembeli, Pelaku Pengedar Narkoba Diamankan Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Sibolga

17 November 2025 - 15:23 WIB

Sat Reskrim Polres Langkat Berhasil Ungkap Kasus Pemerasan, Kapolres Tegaskan Tidak Ada Ruang bagi Pelaku Intimidasi

14 November 2025 - 22:02 WIB

Terlibat Kasus Korupsi MFF 2024, Mantan Anak Buah Bobby Nasution Ditetapkan Tersangka

13 November 2025 - 23:42 WIB

Polres Langkat Ungkap 29 Kasus Narkoba Sepanjang Oktober, 32 Tersangka Diamankan 

12 November 2025 - 12:06 WIB

Polsek Bahorok Ungkap Kasus Narkotika Jenis Sabu dan pil ekstasi di Desa Perkebunan bukit lawang

11 November 2025 - 15:31 WIB

Kekecewaan Pasien Oprasi dan Ketulusan Medis RSUD Subulussalam

8 November 2025 - 20:19 WIB

Skandal Panwaslih Subulussalam & Dana Desa: “Tidak Ada Nego”, Kejaksaan Tegaskan Petunjuk dari BPKP Aceh Sudah Dipenuhi

7 November 2025 - 20:13 WIB

Sat Narkoba Polres Langkat Tangkap Pria Diduga Terlibat Penyalahgunaan Ganja

7 November 2025 - 20:00 WIB

Trending di Hukum