MITRAPOLDA.COM, Belawan, 24 Juli 2026 – Di balik megahnya aktivitas Pelabuhan Belawan yang menjadi salah satu pintu gerbang perekonomian terbesar di Sumatera Utara, tersimpan kisah miris yang masih dialami sebagian masyarakat.
Salah satunya adalah Arsa Kartika (13), putri dari pasangan Fandi Awan (44) dan Arbaiyah (46), warga Jalan Serdang Blok EF, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya, Arsa tetap berusaha mempertahankan semangat untuk melanjutkan pendidikan.
Kondisi tersebut menjadi potret nyata bahwa kemajuan ekonomi di kawasan industri dan pelabuhan belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Belawan menjadi lokasi berdirinya sejumlah perusahaan besar, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), namun masih banyak warga yang hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit.
Melihat kondisi tersebut, Forum Masyarakat Belawan Membangun (FORMABEM) bersama relawan melakukan pendampingan terhadap proses administrasi pendidikan Arsa agar haknya untuk memperoleh pendidikan tetap dapat terpenuhi.
Ketua Umum FORMABEM Andi Ardianto, SH.,CPM, menyampaikan bahwa kisah Arsa bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Menurutnya, masih banyak keluarga di Belawan yang menghadapi kesulitan ekonomi, akses pekerjaan yang terbatas, dan tantangan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka.
“Kami tidak hanya membantu satu anak. Arsa hanyalah satu dari sekian banyak potret masyarakat Belawan yang membutuhkan perhatian lebih serius dari seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
FORMABEM juga menyampaikan harapan agar Pemerintah Kota Medan, DPRD Kota Medan, pemerintah pusat, serta perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan Belawan meningkatkan perhatian terhadap persoalan kemiskinan, kesempatan kerja bagi warga lokal, serta pemerataan manfaat program Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurut organisasi tersebut, masyarakat berharap program CSR dapat dilaksanakan secara lebih transparan, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan pembangunan lingkungan di Belawan.
Selain itu, FORMABEM menilai perlunya evaluasi terhadap berbagai kebijakan pembangunan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Organisasi ini juga menyampaikan bahwa sebagian warga mengeluhkan meningkatnya biaya hidup dan terbatasnya peluang kerja, sehingga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat Belawan.
Bagi Arsa, harapannya sederhana: dapat terus bersekolah dan meraih cita-citanya tanpa harus terhenti karena keterbatasan ekonomi.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur dan tingginya aktivitas industri, tetapi juga dari sejauh mana anak-anak di sekitar kawasan tersebut memperoleh kesempatan yang adil untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.
“Tidak boleh ada anak Belawan yang kehilangan masa depannya hanya karena kemiskinan.”
Di tengah kawasan Pelabuhan dan industri terbesar di Sumatera Utara, terlalu miris masih ada anak-anak yang berjuang mempertahankan mimpi karena himpitan ekonomi, masyarakat mempertanyakan manfaat pembangunan, keuntungan besar yang di raih BUMN dan program CSR yang seharusnya turut dirasakan warga sekitar. (MDR)








