MITRAPOLDA.COM, MEDAN – Kondisi kawasan Medan Utara yang mencakup Belawan, Labuhan, Marelan, hingga Medan Deli memicu keprihatinan mendalam dari praktisi hukum sekaligus putri asli daerah, Maulida Agusdila Rosa Sitorus, S.H., M.H. Sebagai bagian dari tim hukum FORMABEM, ia menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah yang dinilai abai terhadap keadilan pembangunan di gerbang utama Sumatra Utara tersebut.

*Janji di Atas Kertas*
Maulida menyoroti kontrasnya wajah Kota Medan. Saat pusat kota dipercantik dengan jalan layang dan kawasan heritage, warga Medan Utara masih bergelut dengan jalan berlubang dan drainase mati. Ia menyebut perbaikan Jalan Bagan Deli dan Kelurahan Belawan II hanya menjadi komoditas pernyataan pejabat tanpa realisasi tuntas.
“Pembangunan hanya ramai di atas kertas. Banjir besar November 2025 menjadi bukti nyata bahwa proyek floodway tidak terintegrasi dan minim perawatan. Medan Utara bukan sekadar pinggiran, ia adalah gerbang dunia bagi Sumatra Utara,” tegas Maulida.
*Peluru Bukan Solusi Tunggal*
Menanggapi maraknya begal dan tawuran, Maulida menilai instruksi “tembak di tempat” hanyalah langkah represif yang gagal menyentuh akar masalah. Menurutnya, kriminalitas di Medan Utara adalah produk dari kemiskinan ekstrem dan pengangguran yang dibiarkan puluhan tahun.
“Siklus kriminalitas tidak akan putus hanya dengan peluru. Penjara seringkali menjadi ‘sekolah kejahatan’ baru jika tidak ada upaya rehabilitasi dan pembukaan lapangan kerja berbasis potensi pelabuhan,” tambahnya.
*Generasi Muda dan Ancaman Narkoba*
Maulida juga menyoroti hilangnya ruang kreatif bagi pemuda. Tawuran di Jalan Industri dan sekitarnya dianggap sebagai luapan rasa frustrasi akibat ketiadaan fasilitas olahraga dan sanggar seni. Di sisi lain, peredaran narkoba telah menyusup ke pelosok pemukiman, menjadi bahan bakar utama tindakan begal dan pencurian.
*Rekomendasi Strategis FORMABEM*
Sebagai bentuk solusi, Maulida Agusdila Rosa Sitorus merumuskan beberapa poin krusial untuk Pemerintah Kota Medan dan aparat penegak hukum:
– Prioritas Anggaran Khusus: Menetapkan Medan Utara sebagai kawasan pembangunan prioritas dengan anggaran yang tidak dapat dialihkan (earmarked).
– Modernisasi Keamanan: Pembangunan pos kamling modern dengan CCTV yang terintegrasi langsung dengan Polsek di titik rawan.
– Pusat Kegiatan Pemuda (Youth Center): Membangun satu pusat pelatihan vokasi, seni, dan olahraga gratis di setiap kecamatan guna memutus rantai tawuran.
– Pemberdayaan Ekonomi Nelayan: Memaksimalkan potensi ribuan lapangan kerja di kawasan pelabuhan bagi warga lokal.
– Rehabilitasi Berbasis Komunitas: Menguatkan peran Puskesmas dan tokoh agama dalam rehabilitasi narkoba tanpa stigma.
“Masyarakat Medan Utara memiliki solidaritas yang kuat. Kami hanya butuh pemerintah dan investor serius menjadikan wilayah ini tempat tinggal yang layak, bukan sekadar pintu ekonomi yang dikuras hasilnya tapi dibiarkan menderita,” pungkasnya.
(Red)








