Menu

Mode Gelap
Dirut PUD Pusat Pasar dipanggil Kejari Terkait Dugaan Suap Dan Gratifikasi POMAL TNI AL KODAERAL 1 Belawan, Terus Memburu Tindak Kriminal Dan Sarang Narkoba DPRD Medan Minta Disdikbud Terbitkan Edaran Larangan Uang Perpisahan Untuk Mencegah PUNGLI di Sekolah Satu Rumah Ludes Terbakar di Pulau Sicanang, Warga Panik Memadam kan Dengan Alat Seadanya Membongkar Borok Medan Utara: CSR Hanya Dinikmati Kroni, Rakyat Diberi Janji Palsu Kolaborasi Polisi dan TNI Respon Laporan Warga soal PETI, 12 Rakit Dimusnahkan

Lintas Peristiwa

Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka

badge-check


					Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Tanah longsor yang menyapu Kampung Durian, Batu Godang, dan bencana banjir bandang di Garoga, Huta Godang, Aek Ngadol, Batu Horing, serta sejumlah kawasan lain di Tapanuli Selatan bukan sekadar bencana alam. Ia adalah surat peringatan keras dari hulu yang sudah bosan diperlakukan sebagai komoditas dan ladang ekspansi.

Dalam tragedi yang menewaskan 85 orang, membuat 30 orang hilang entah ke mana, merusak 1.704 rumah, dan memaksa 7.248 jiwa mengungsi, publik kembali disuguhkan drama klasik: air mata korban di lapangan, rapat darurat pejabat di ruangan berpendingin, dan kalimat standar yang sudah direvisi puluhan kali sebelum diucapkan ke kamera: “Ini murni akibat cuaca ekstrem.”

Padahal semua tahu, kadang alam hanya mengirimkan hujan, manusia lah yang menciptakan bencana.

Hulu yang Lapar, Lereng yang Patah, dan Tata Ruang yang Menyerah

Hujan ekstrem memang turun. Tetapi hujan tidak pernah meminta bukit-bukit digunduli. Tidak pernah meminta hutan diganti pola kotak-kotak monokultur. Tidak pernah meminta bekas konsesi dibiarkan menganga seperti perangkap maut.

Warga mengulang kisah yang sama: “Dulu air naik. Sekarang air datang membawa apa pun yang dipotong dari hulu.”

Di antara serpihan rumah, tersangkut gelondongan kayu besar. Bukan ranting. Bukan dahan. Kayu besar—ukuran yang tidak tumbuh di pinggir halaman rumah warga. Ukuran yang menandakan ada sesuatu di hulu yang berdiri terlalu lama dan tumbang terlalu cepat.

Ketika Perizinan Berlari, Pengawasan Merangkak

Selama satu dekade lebih, perubahan tutupan lahan di Tapsel berjalan seperti lomba sprint. Perizinan, pembukaan kebun, dan ekspansi lahan berlari secepat mungkin. Sebaliknya, pengawasan dan audit lingkungan datang menyusul dengan napas terengah-engah.

Di beberapa titik, lereng dibuka tanpa terasering. Di titik lain, lahan dibiarkan berlubang-lubang seperti permukaan bulan.
Semuanya berdiri di atas satu asumsi optimistis: “Ah, mungkin tidak akan hujan terlalu deras.”

Dan ketika hujan datang, tebing pun runtuh—bukan karena hujan, melainkan karena keserakahan yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar.

Sistem Peringatan Dini: Ada Di Laporan, Tidak Ada Di Lapangan

BMKG sudah memberikan peringatan cuaca ekstrem. Tapi peringatan itu berhenti di layar monitor dan lembar laporan.

Tidak ada sirene.
Tidak ada pengeras suara desa. Tidak ada evakuasi dini.

Padahal perkiraan jeda antara hujan ekstrem di hulu dan banjir tiba di hilir mencapai enam jam—waktu yang cukup panjang untuk memindahkan manusia dari bahaya, kalau saja bahaya tidak dianggap sekadar “informasi cuaca”.

Di lapangan, sebagian warga hanya tahu banjir datang ketika aliran sungai berubah warna—sebuah early warning system yang diciptakan alam, karena manusia lupa membangun versinya sendiri.

Jejak Kayu Besar, Lumpur Pekat, dan Pertanyaan yang Tak Mau Padam

Gelondongan-gelondongan kayu yang terseret banjir menciptakan teka-teki yang jawabannya semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani mengucapkan bulat-bulat.

Kayu itu terlalu besar untuk disebut “ranting hanyut”. Terlalu banyak untuk disebut “kebetulan”. Terlalu rapi untuk disebut “semak belukar hanyut”.

Pertanyaan publik sederhana: Jika kawasan hulu dilindungi, kenapa kayu sebesar itu bisa bebas ikut arus?

Jawaban resminya biasanya lebih rumit dari kenyataannya. Dan biasanya, yang disalahkan tetap hujan.

85 Nyawa, 30 Hilang, 7.248 Pengungsi: Apakah Ini Baru Cukup Untuk Memaksa Perubahan?

Tapsel kini menghadapi kerusakan yang tidak bisa ditambal dengan kunjungan pejabat, konferensi pers, atau janji normalisasi sungai.
Yang rusak bukan hanya rumah—1.704 unit—tetapi kepercayaan warga kepada sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Rekomendasi yang disuarakan publik dan para ahli kini menjadi nyaring:

1. Audit tutupan lahan dan perizinan yang dibuka ke publik — bukan hanya ke meja rapat.
2. Restorasi dan rehabilitasi DAS yang benar-benar memulihkan, bukan seremoni menanam bibit.
3. Early warning system desa—bukan sekadar jargon, tapi perangkat yang hidup.
4. Penegakan hukum yang menyentuh pelaku besar, bukan sekadar pekerja lapangan.
5. Relokasi zona merah secara permanen—bukan janji yang diulang setiap musim hujan.

Bencana Datang dari Langit, Tetapi Kerentanan Datang dari Kebijakan

Banjir dan longsor di Tapanuli Selatan adalah tragedi yang menyisakan luka kolektif:

85 meninggal, 30 hilang, 1.704 rumah rusak, 7.248 mengungsi.

Angka-angka itu seharusnya cukup untuk membungkam narasi “ini sekadar musibah alam”. Alam hanya melakukan bagiannya: menurunkan hujan.
Yang gagal melakukan bagiannya adalah manusia—yang membabat, menambang, menunda, dan meremehkan.

Di antara puing-puing yang tersisa, satu kalimat bergema:
“Bencana ini mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Tapi kerusakan sebesar ini bukanlah takdir—ini adalah hasil dari pilihan.”. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Kolaborasi Polisi dan TNI Respon Laporan Warga soal PETI, 12 Rakit Dimusnahkan

29 April 2026 - 22:24 WIB

Oknum lurah Kampung Lama di Duga Pungli Rp 4 juta ke Korban Banjir Warga Katanya Biar Bantuan Cepat Cair

29 April 2026 - 18:59 WIB

Kapolres Langkat Tinjau Langsung Renovasi Jembatan Merah Putih Sang Bhayangkara di Secanggang

29 April 2026 - 18:58 WIB

Prajurit Petarung Kodim 0201/Medan Gelar Tradisi Pedang Pora Lepas Sambut Dandim

29 April 2026 - 18:57 WIB

Kodim 0207/Simalungun Rampungkan Jembatan Aramco di Raya Bosi, Akses Warga Kembali Lancar

29 April 2026 - 18:57 WIB

Kodim 0209/Labuhanbatu Rampungkan Pembangunan Jembatan Aramco Pasar Bilah 2B

29 April 2026 - 18:55 WIB

Pos Kamling Jadi Garda Terdepan Keamanan Lingkungan, Polsek Besitang Intensifkan Sambang dan Cooling System

27 April 2026 - 01:36 WIB

Polda Riau Ungkap Praktik Premanisme Berkedok Debt Collector

26 April 2026 - 21:22 WIB

Kodim 0209/Labuhanbatu Tuntaskan Pembangunan Jembatan di Desa Sukarame Baru

26 April 2026 - 21:21 WIB

Kodim 0209/Labuhanbatu Rampungkan Pembangunan Jembatan Aramco Pasar Bilah 2B

26 April 2026 - 21:20 WIB

Ps Kasubsi Penmas Si Humas Polres Pakpak Bharat, Aiptu Widodo Layani Donor Darah Gol B+ Pasien RSUD Salak

25 April 2026 - 23:29 WIB

Sat Narkoba Polres Langkat Gerebek Lokasi Diduga Tempat Transaksi Sabu di Hinai

25 April 2026 - 22:58 WIB

Pangdam I/BB Pimpin Sertijab dan Tradisi Korps Pejabat Utama di Makodam I/BB

25 April 2026 - 22:55 WIB

Kepala SMAN 5 Medan Diduga Menyalah Gunakan Dana BOS

25 April 2026 - 22:55 WIB

Polsek Tambang Gelar Sosialisasi Green Policing dan Penanaman Pohon di Ponpes Az Zahra

25 April 2026 - 22:54 WIB

Kodim 0209/Labuhanbatu Tuntaskan Pembangunan Jembatan di Desa Sukarame Baru

25 April 2026 - 22:53 WIB

Polsek Tambang Gelar Sosialisasi Green Policing dan Penanaman Pohon di Ponpes Az Zahra

24 April 2026 - 23:00 WIB

Pangdam I/BB Tinjau Komlekdam I/BB, Pastikan Kesiapan Alkomlek dan Operasional Satuan

24 April 2026 - 23:00 WIB

Kodim 0209/Labuhanbatu Tuntaskan Pembangunan Jembatan Aramco di Desa Tanjung Pasir

24 April 2026 - 22:59 WIB

Kodim 0212/TS Bersama Masyarakat Perbaiki Jembatan Gantung di Ulu Pungkut

24 April 2026 - 22:58 WIB

Trending di Lintas Peristiwa