Menu

Mode Gelap
FORMABEM Bersama PT SMART Tbk Tebar Berkah di Belawan, 20 Anak Yatim dan 6 Penyandang Disabilitas Terima Bantuan Pisah Sambut Kapolres Tebing Tinggi, AKBP Hotmartua Ambarita, S.H., S.I.K., M.H. Resmi Bertugas Acara Syukuran Hari Jadi Polwan Ke 78 dan Pelepasan Purna Bakti Polres Batu Bara Kejati Sumut Salurkan Aduan Dugaan Kerugian Keuangan Negara di Dinas PMD Palas ke Kejari Setempat PEMKO PADANGSIDIMPUAN GAGAL MENYEGEL GUDANG UD. CINDY, KARENA MEMENTINGKAN KELUHAN PEKERJA Bupati Madina dan Wabup Hadiri Pelantikan Pengurus Kadin Periode 2026-2030

Lintas Peristiwa

Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka

badge-check


					Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Tanah longsor yang menyapu Kampung Durian, Batu Godang, dan bencana banjir bandang di Garoga, Huta Godang, Aek Ngadol, Batu Horing, serta sejumlah kawasan lain di Tapanuli Selatan bukan sekadar bencana alam. Ia adalah surat peringatan keras dari hulu yang sudah bosan diperlakukan sebagai komoditas dan ladang ekspansi.

Dalam tragedi yang menewaskan 85 orang, membuat 30 orang hilang entah ke mana, merusak 1.704 rumah, dan memaksa 7.248 jiwa mengungsi, publik kembali disuguhkan drama klasik: air mata korban di lapangan, rapat darurat pejabat di ruangan berpendingin, dan kalimat standar yang sudah direvisi puluhan kali sebelum diucapkan ke kamera: “Ini murni akibat cuaca ekstrem.”

Padahal semua tahu, kadang alam hanya mengirimkan hujan, manusia lah yang menciptakan bencana.

Hulu yang Lapar, Lereng yang Patah, dan Tata Ruang yang Menyerah

Hujan ekstrem memang turun. Tetapi hujan tidak pernah meminta bukit-bukit digunduli. Tidak pernah meminta hutan diganti pola kotak-kotak monokultur. Tidak pernah meminta bekas konsesi dibiarkan menganga seperti perangkap maut.

Warga mengulang kisah yang sama: “Dulu air naik. Sekarang air datang membawa apa pun yang dipotong dari hulu.”

Di antara serpihan rumah, tersangkut gelondongan kayu besar. Bukan ranting. Bukan dahan. Kayu besar—ukuran yang tidak tumbuh di pinggir halaman rumah warga. Ukuran yang menandakan ada sesuatu di hulu yang berdiri terlalu lama dan tumbang terlalu cepat.

Ketika Perizinan Berlari, Pengawasan Merangkak

Selama satu dekade lebih, perubahan tutupan lahan di Tapsel berjalan seperti lomba sprint. Perizinan, pembukaan kebun, dan ekspansi lahan berlari secepat mungkin. Sebaliknya, pengawasan dan audit lingkungan datang menyusul dengan napas terengah-engah.

Di beberapa titik, lereng dibuka tanpa terasering. Di titik lain, lahan dibiarkan berlubang-lubang seperti permukaan bulan.
Semuanya berdiri di atas satu asumsi optimistis: “Ah, mungkin tidak akan hujan terlalu deras.”

Dan ketika hujan datang, tebing pun runtuh—bukan karena hujan, melainkan karena keserakahan yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar.

Sistem Peringatan Dini: Ada Di Laporan, Tidak Ada Di Lapangan

BMKG sudah memberikan peringatan cuaca ekstrem. Tapi peringatan itu berhenti di layar monitor dan lembar laporan.

Tidak ada sirene.
Tidak ada pengeras suara desa. Tidak ada evakuasi dini.

Padahal perkiraan jeda antara hujan ekstrem di hulu dan banjir tiba di hilir mencapai enam jam—waktu yang cukup panjang untuk memindahkan manusia dari bahaya, kalau saja bahaya tidak dianggap sekadar “informasi cuaca”.

Di lapangan, sebagian warga hanya tahu banjir datang ketika aliran sungai berubah warna—sebuah early warning system yang diciptakan alam, karena manusia lupa membangun versinya sendiri.

Jejak Kayu Besar, Lumpur Pekat, dan Pertanyaan yang Tak Mau Padam

Gelondongan-gelondongan kayu yang terseret banjir menciptakan teka-teki yang jawabannya semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani mengucapkan bulat-bulat.

Kayu itu terlalu besar untuk disebut “ranting hanyut”. Terlalu banyak untuk disebut “kebetulan”. Terlalu rapi untuk disebut “semak belukar hanyut”.

Pertanyaan publik sederhana: Jika kawasan hulu dilindungi, kenapa kayu sebesar itu bisa bebas ikut arus?

Jawaban resminya biasanya lebih rumit dari kenyataannya. Dan biasanya, yang disalahkan tetap hujan.

85 Nyawa, 30 Hilang, 7.248 Pengungsi: Apakah Ini Baru Cukup Untuk Memaksa Perubahan?

Tapsel kini menghadapi kerusakan yang tidak bisa ditambal dengan kunjungan pejabat, konferensi pers, atau janji normalisasi sungai.
Yang rusak bukan hanya rumah—1.704 unit—tetapi kepercayaan warga kepada sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Rekomendasi yang disuarakan publik dan para ahli kini menjadi nyaring:

1. Audit tutupan lahan dan perizinan yang dibuka ke publik — bukan hanya ke meja rapat.
2. Restorasi dan rehabilitasi DAS yang benar-benar memulihkan, bukan seremoni menanam bibit.
3. Early warning system desa—bukan sekadar jargon, tapi perangkat yang hidup.
4. Penegakan hukum yang menyentuh pelaku besar, bukan sekadar pekerja lapangan.
5. Relokasi zona merah secara permanen—bukan janji yang diulang setiap musim hujan.

Bencana Datang dari Langit, Tetapi Kerentanan Datang dari Kebijakan

Banjir dan longsor di Tapanuli Selatan adalah tragedi yang menyisakan luka kolektif:

85 meninggal, 30 hilang, 1.704 rumah rusak, 7.248 mengungsi.

Angka-angka itu seharusnya cukup untuk membungkam narasi “ini sekadar musibah alam”. Alam hanya melakukan bagiannya: menurunkan hujan.
Yang gagal melakukan bagiannya adalah manusia—yang membabat, menambang, menunda, dan meremehkan.

Di antara puing-puing yang tersisa, satu kalimat bergema:
“Bencana ini mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Tapi kerusakan sebesar ini bukanlah takdir—ini adalah hasil dari pilihan.”. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Pisah Sambut Kapolres Tebing Tinggi, AKBP Hotmartua Ambarita, S.H., S.I.K., M.H. Resmi Bertugas

19 September 2026 - 18:31 WIB

Acara Syukuran Hari Jadi Polwan Ke 78 dan Pelepasan Purna Bakti Polres Batu Bara

14 September 2026 - 13:18 WIB

Kejati Sumut Salurkan Aduan Dugaan Kerugian Keuangan Negara di Dinas PMD Palas ke Kejari Setempat

12 September 2026 - 22:39 WIB

PEMKO PADANGSIDIMPUAN GAGAL MENYEGEL GUDANG UD. CINDY, KARENA MEMENTINGKAN KELUHAN PEKERJA

12 September 2026 - 18:21 WIB

GPM PALAS Gelar Aksi Jilid II di Depan PKS PT KAS Ujung Batu, Desak Hentikan Operasional Akibat Dugaan Pencemaran Sungai Aek Tinga

5 September 2026 - 15:03 WIB

Polres Padang Lawas Utara Cek Lokasi Galian C dan Stone Crusher Diduga Belum Berizin

28 Agustus 2026 - 01:31 WIB

GUSTI PUTRA HAJORAN SIREGAR KETUA AMPI PALUTA DAMPINGI KADER TERBAIKNYA UNTUK MENDAFTAR CALON KETUA KNPI PALUTA

28 Agustus 2026 - 01:28 WIB

PKS KSM Raih Piagam Penghargaan Predikat TA’AT Dan PATUH Bidang Perlindungan Lingkungan Hidup

21 Agustus 2026 - 01:34 WIB

Polres Padang Lawas Utara Cek Lokasi Galian C dan Stone Crusher Diduga Belum Berizin

20 Agustus 2026 - 17:44 WIB

Peringatan HUT RI 81 di kecamatan Padang bolak tenggara berlangsung hikmat

19 Agustus 2026 - 10:01 WIB

RIBUAN WARGA TEBING TINGGI PADATI LAPANGAN MERDEKA MERIAHKAN SEMARAK HUT KE-81 RI

18 Agustus 2026 - 23:23 WIB

BUKA KAMPANYE GERMAS DALAM ISPS 2026, WALI KOTA TEBING TINGGI APRESIASI PENURUNAN STUNTING

18 Agustus 2026 - 22:58 WIB

Toko Acai Jaya Tawarkan Pernak-pernik Merah Putih

18 Agustus 2026 - 22:54 WIB

PEMBAGIAN DANA KEMITRAAN TAHUKAH 1.5 MILYAR DI DESA SOMBA DEBATA DUSUN LINGGAHARA TUAI POLEMIK PENGURUS TERANCAM DILAPORKAN KE APH

17 Agustus 2026 - 02:33 WIB

Grand Final Open Turnamen Mini Soccer Tobat Cup Berlangsung Sengit, Berakhir Adu Finalti

10 Agustus 2026 - 22:31 WIB

Kapolres Langkat Gelar Minggu Kasih Bersama Jemaat GPdi Lembah Pujian

10 Agustus 2026 - 22:30 WIB

Kapolres Langkat Ajak Warga Perkuat Iman dan Perangi Narkoba Lewat Safari Jumat Curhat

8 Agustus 2026 - 13:42 WIB

Penabalan Tongku Somba Sebagai Raja Huta Tambusai Timur Berjalan Sukses Dan Meriah

3 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Polres Rokan Hulu Monitoring Jagung Usia 64 Hari, Opimalisasi Program Ketahanan Pangan Nasional

3 Agustus 2026 - 22:31 WIB

Polda Riau Siapkan Pusat Studi Kepolisian dan Lingkungan, Perkuat Green Policing Berbasis Riset

24 Juli 2026 - 08:39 WIB

Trending di Lintas Peristiwa