Langsa | MitraPolda.com
Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HMPS HTN) IAIN Langsa menggelar diskusi bertajuk “Gelombang Aksi Juni 2026: Aspirasi Rakyat atau Krisis Kepercayaan terhadap Pemerintah?”sebagai ruang akademik untuk mengkaji dinamika sosial-politik yang berkembang di tengah masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Afinas Qadafi, S.H., C.P.M. dan diikuti oleh mahasiswa dengan antusias melalui sesi diskusi yang berlangsung aktif dan kritis.
Dalam pemaparannya, Afinas Qadafi menegaskan bahwa setiap gerakan sosial maupun aksi massa harus memiliki arah perjuangan yang jelas. Menurutnya, sebelum merencanakan sebuah aksi revolusi atau gerakan besar, hal utama yang harus dipikirkan adalah ke mana arah bangsa akan dibawa setelah aksi tersebut terlaksana. Perubahan yang diperjuangkan harus mampu memberikan jaminan bahwa kondisi negara akan menjadi lebih baik, bukan sekadar mengganti keadaan tanpa solusi yang jelas.
Selain membahas dinamika gerakan sosial, Afinas juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan perguruan tinggi, khususnya di IAIN Langsa. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa merupakan agen intelektual yang memiliki fungsi utama sebagai penggerak pemikiran kritis.
> *”Mahasiswa adalah mesin berpikir, bukan robot yang harus patuh tanpa adanya pertentangan pikiran maupun perdebatan ideologis.”*
Menurutnya, kampus harus menjadi ruang yang sehat untuk berdiskusi, mengkritisi kebijakan, serta melahirkan gagasan-gagasan baru yang konstruktif demi kemajuan bangsa.
Lebih lanjut, Afinas mengajak mahasiswa agar tidak mudah terbawa arus atau sekadar mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan. Ia menekankan bahwa setiap mahasiswa harus membangun budaya mengkaji, menganalisis, dan memahami suatu persoalan secara mendalam sebelum menentukan sikap. Gerakan mahasiswa yang ideal adalah gerakan yang lahir dari kajian ilmiah, bukan karena fenomena fear of missing out (FOMO) atau ikut-ikutan tanpa memahami substansi persoalan.
Pada sesi diskusi, Wakil Ketua Umum HMPS HTN IAIN Langsa, M. Aditya Firdaus, turut menyampaikan pandangannya mengenai kondisi gerakan mahasiswa di Kota Langsa. Ia menyoroti bahwa mahasiswa di Kota Langsa mulai kehilangan salah satu fungsi utamanya sebagai social control. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih rendahnya kesadaran sebagian mahasiswa terhadap berbagai isu nasional maupun internasional yang seharusnya menjadi perhatian dan bahan kajian bersama. Ia berharap mahasiswa kembali menghidupkan budaya membaca, berdiskusi, dan mengawal berbagai persoalan publik sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual.
Sementara itu, Ketua Umum HMPS HTN IAIN Langsa, M. Hafis Arrazka Mulya, menyampaikan harapannya agar kegiatan diskusi seperti ini dapat menjadi agenda yang berkelanjutan di lingkungan HMPS HTN. Menurutnya, budaya diskusi tidak seharusnya hanya muncul ketika terdapat isu-isu yang sedang viral atau menjadi perhatian publik, tetapi harus terus dilaksanakan secara konsisten sebagai upaya membangun tradisi akademik yang kuat. Dengan demikian, mahasiswa akan terbiasa berpikir kritis, memperluas wawasan, serta mampu merespons berbagai persoalan secara objektif dan berbasis kajian ilmiah.
Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta mengenai posisi mahasiswa dalam mengawal demokrasi serta menjaga keseimbangan antara kebebasan menyampaikan aspirasi dan tanggung jawab intelektual. Melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh HMPS HTN IAIN Langsa ini, diharapkan budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa semakin kuat serta mampu melahirkan gerakan-gerakan yang berlandaskan kajian ilmiah, objektif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat serta kemajuan bangsa.







