Menu ✖

Mode Gelap
Ops Patuh Toba 2026: Kapolres Langkat Bagi-Bagi Helm Gratis Dan Cokelat Ke Pengguna Jalan PELAKSANAAN UPACARA MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA SDN. 0707 ALIAGA II Polsek Pangkalan Susu Gencarkan Patroli Dialogis, Wujudkan Kamtibmas Aman dan Kondusif Bupati Madina Ingatkan Sarjana Harus Tetap Belajar di Tengah Kemajuan Teknologi Viral Penganiayaan di Gunung Tua Berlanjut di Polres Madina KEPALA SEKOLAH SD.NEGERI 1204 PADANG HASIOR KEC.SIHAPAS BARUMUN KAB.PADANG LAWAS MENERAPKAN KEDISIPLINAN MELALUI SHOLAT BERJAMAAH

Lintas Peristiwa

Jika 22 Nyawa Belum Cukup, Berapa Banyak Lagi agar Keserakahan Ikut Tertimbun?

badge-check


					Jika 22 Nyawa Belum Cukup, Berapa Banyak Lagi agar Keserakahan Ikut Tertimbun? Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Kampung Durian, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kini menjadi museum terbuka tentang bagaimana sebuah tragedi bisa terjadi tepat di depan mata, namun sebagian pihak memilih menatap ke langit, menyalahkan hujan, dan berharap publik ikut pura-pura buta.

Dua puluh dua jenazah terangkat dari tanah.
Yang menguburnya memang longsor,
tetapi yang menguburkan akal sehat adalah respons dari mereka yang seharusnya bertanggung jawab mengelola tanah itu.

Bukit Runtuh, Sawit Turun Gunung, Tanggung Jawab Menguap

Ketika bukit itu jebol, sawit meluncur seolah sedang membocorkan rahasia yang selama ini ditutup rapat. Batang-batangnya tersebar di lokasi bencana seperti barang bukti yang bahkan enggan disembunyikan.

Sayangnya, bukti sering kali lebih jujur daripada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan seperti biasa dalam tradisi panjang negeri ini: yang paling cepat hadir bukan pertanggungjawaban,
melainkan narasi pembelaan.

Pola Tanam Lereng Curam: Komedi Gelap yang Sudah Diketahui Semua Orang, Kecuali Mereka yang Harusnya Tahu

Seluruh ahli sudah lama sepakat: sawit bukan penjaga lereng. Akar dangkal + bukit curam = bencana yang tinggal menunggu waktu.

Namun entah siapa yang mengajarkan bahwa rumus ini bisa dilawan dengan optimisme dan target produksi. Mungkin di ruang rapat, tanah dianggap hanya angka. Masalahnya, di Kampung Durian, tanah itu tempat orang hidup, dan mati.

Ketika publik bertanya, “Mengapa sawit di lereng securam itu?”, yang muncul justru jawaban klasik: “Ini faktor alam.” Alam selalu disalahkan karena alam tidak pernah menggelar konferensi pers untuk membantah.

Mitigasi Versi Dokumen: Indah di PowerPoint, Hilang di Tanah Longsor

Setiap perusahaan besar biasanya punya dokumen mitigasi. Berwarna biru, penuh grafik, dan dilengkapi jargon yang gemuk.

Sayangnya, dokumen itu jarang turun gunung.
Ketika bencana terjadi, ia tetap duduk manis di rak kantor, tidak ikut berlari menyelamatkan warga.

Relawan yang datang justru menemukan ketiadaan: tidak ada peta jalur, tidak ada sistem evakuasi, tidak ada infrastruktur penunjang, bahkan tidak ada petunjuk arah di lahan perusahaan besar. Satu-satunya yang banyak hanyalah kebingungan. Mitigasi tampaknya hanya aktif ketika ada auditor, bukan ketika ada mayat.

Respons Korporasi: Hadir Tanpa Rasa, Pergi Tanpa Jejak

Bantuan datang, tapi rasanya seperti formalitas. Seolah bukan untuk menyelamatkan,
melainkan agar tidak terlihat sama sekali tidak hadir.

Warga dan relawan melihat sesuatu yang ganjil: kehadiran perusahaan lebih mirip acara kunjungan, bukan rasa tanggung jawab. Ada rompi, ada dokumentasi, ada kalimat standar. Yang tidak ada adalah kehadiran moral.

Beberapa warga bahkan membisikkan, “Kalau begini caranya, mungkin tenda darurat lebih tulus daripada pernyataan resmi.”

Hukum Lingkungan: Nyawa Sudah Hilang, Tapi Negara Seperti Menunggu Undangan Resmi

Para ahli hukum tahu: dugaan kelalaian korporasi yang menyebabkan korban jiwa tidak perlu aduan.

Tapi entah mengapa, di lapangan, penegakan hukum sering tampil paling akhir. Seolah aparat harus memastikan dulu apakah publik benar-benar ingin keadilan, padahal mereka baru saja kehilangan keluarga.

Ini semacam ironi administratif: semua pihak sibuk memastikan prosedur terpenuhi,
sementara fakta keras sudah tergeletak di tanah. Negara seperti menunggu izin untuk peduli.

Duka Warga: Tidak Bisa Dilap Pakai Rilis Pers

Di dusun yang luluh lantak itu: ada ibu yang kehilangan dua anaknya, ada keluarga yang tidak lagi punya rumah, ada anak-anak yang ketakutan setiap kali langit menggelap.

Tetapi entah bagaimana, selalu saja ada pihak yang merasa tragedi bisa diobati dengan satu kalimat: “Ini murni bencana alam.” Kalimat yang lebih cocok dipakai untuk menutupi kegagalan manusia.

Penutup: Jika 22 Nyawa Masih Tidak Cukup, Lalu Berapa Lagi Harga Sebuah Evaluasi?

Tragedi Kampung Durian adalah refleksi pahit tentang bagaimana tanah dikelola, bagaimana risiko diabaikan, dan bagaimana manusia baru dilihat ketika sudah menjadi angka kematian.

Publik tidak menuntut banyak, hanya kejujuran, evaluasi, dan tanggung jawab. Jika itu saja dianggap berlebihan, maka kita sedang menunggu bencana berikutnya dengan pasrah, karena bukit tidak pernah salah membaca arah air, tapi manusia sering salah membaca batas keserakahan. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Ops Patuh Toba 2026: Kapolres Langkat Bagi-Bagi Helm Gratis Dan Cokelat Ke Pengguna Jalan

6 November 2026 - 21:35 WIB

PELAKSANAAN UPACARA MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA SDN. 0707 ALIAGA II

6 November 2026 - 00:20 WIB

Polsek Pangkalan Susu Gencarkan Patroli Dialogis, Wujudkan Kamtibmas Aman dan Kondusif

6 November 2026 - 00:19 WIB

Viral Penganiayaan di Gunung Tua Berlanjut di Polres Madina

31 Oktober 2026 - 13:06 WIB

KEPALA SEKOLAH SD.NEGERI 1204 PADANG HASIOR KEC.SIHAPAS BARUMUN KAB.PADANG LAWAS MENERAPKAN KEDISIPLINAN MELALUI SHOLAT BERJAMAAH

31 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Kepala SD Negeri 012 Simangambat Jalin Percintaan Romantis

31 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Ismail Dalimuthe, Jalur Menuju TPA Panyanbungan Barat Sedang Diperbaiki

18 Oktober 2026 - 23:38 WIB

Minggu Kasih di Gereja HKBP Stabat, Kapolres Langkat Ajak Jemaat Bersama Jaga Kamtibmas

18 Oktober 2026 - 23:37 WIB

KEPALA SEKOLAH SD.NEGERI 1204 PADANG HASIOR KEC.SIHAPAS BARUMUN KAB.PADANG LAWAS MENERAPKAN KEDISIPLINAN MELALUI SHOLAT BERJAMAAH

16 Oktober 2026 - 01:41 WIB

Bunda Paud Madina Serahkan Bantuan untuk Siswa SLB

15 Oktober 2026 - 01:36 WIB

Gilaa, Arogansi Pengelola Taman Malibu Indah, Warga Dijadikan “Tahanan” di Rumah Sendiri

13 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Polres Binjai dan Lions Club Bantu Masyarakat, Gelar Operasi Katarak Gratis Sambut HKGB Ke-74

11 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Musdes Liar Pengangkatan Pj Kades Huta Lancar Tanpa Sepengetahuan Camat Pakantan

10 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Bupati Saipullah Minta KONI Siapkan Cabor Unggulan untuk Porprov 2026

7 Oktober 2026 - 03:19 WIB

Harun Ridwan Pimpin Ketua KONI Madina Masa Bakti 2026-2030

7 Oktober 2026 - 03:13 WIB

AKSI DEMO, PULUHAN WARGA BANDAR LABUHAN TANJUNG MORAWA HADANG DUMP TRUCK GALIAN C MELEBIHI TONASE

7 Oktober 2026 - 03:10 WIB

Program Strategis Presiden Prabowo, Dicedrai dengan Arogansi Ka SPPG dan Yayasan, 4 Pencuci Omprengan SPPG Medan Tembung 3 Di-PHK Kilat Langgar SOP BGN

6 Oktober 2026 - 00:48 WIB

Di Reses III Edi Anwar Sapa Masyarakat Roburan Dolok Dan Santuni Anak Yatim

4 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Wakil Bupati Paluta Resmi Buka Muscab III FSPTSI-KSPSI, Tekankan Pentingnya Kesejahteraan Buruh

28 September 2026 - 18:16 WIB

Warga Batang Pane II Didampingi Kuasa Hukum Datangi Polres Paluta, Minta Kejelasan Laporan Penggelapan Tanah

28 September 2026 - 18:14 WIB

Trending di Lintas Peristiwa