Menu

Mode Gelap
Barang Bukti Curanmor Diserahkan, Polres Rohul Bantu Warga Tanpa Dipungut Biaya Sidang Vonis Seumur Hidup Darwis Harahap Dikawal Ketat, Ratusan Warga Padang Lawas Utara Penuhi PN Padangsidimpuan Imigrasi Belawan Hadirkan Pasporia Saat Car Free Day, Warga Bisa Urus Paspor di Hari Libur Penabalan Tongku Somba Sebagai Raja Huta Tambusai Timur Berjalan Sukses Dan Meriah Polres Rokan Hulu Monitoring Jagung Usia 64 Hari, Opimalisasi Program Ketahanan Pangan Nasional Aktivis Soroti Informasi Publik BNCT, Minta Kondisi Operasional Disampaikan Secara Transparan Sesuai Fakta Lapangan

Lintas Peristiwa

Jika 22 Nyawa Belum Cukup, Berapa Banyak Lagi agar Keserakahan Ikut Tertimbun?

badge-check


					Jika 22 Nyawa Belum Cukup, Berapa Banyak Lagi agar Keserakahan Ikut Tertimbun? Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Kampung Durian, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kini menjadi museum terbuka tentang bagaimana sebuah tragedi bisa terjadi tepat di depan mata, namun sebagian pihak memilih menatap ke langit, menyalahkan hujan, dan berharap publik ikut pura-pura buta.

Dua puluh dua jenazah terangkat dari tanah.
Yang menguburnya memang longsor,
tetapi yang menguburkan akal sehat adalah respons dari mereka yang seharusnya bertanggung jawab mengelola tanah itu.

Bukit Runtuh, Sawit Turun Gunung, Tanggung Jawab Menguap

Ketika bukit itu jebol, sawit meluncur seolah sedang membocorkan rahasia yang selama ini ditutup rapat. Batang-batangnya tersebar di lokasi bencana seperti barang bukti yang bahkan enggan disembunyikan.

Sayangnya, bukti sering kali lebih jujur daripada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan seperti biasa dalam tradisi panjang negeri ini: yang paling cepat hadir bukan pertanggungjawaban,
melainkan narasi pembelaan.

Pola Tanam Lereng Curam: Komedi Gelap yang Sudah Diketahui Semua Orang, Kecuali Mereka yang Harusnya Tahu

Seluruh ahli sudah lama sepakat: sawit bukan penjaga lereng. Akar dangkal + bukit curam = bencana yang tinggal menunggu waktu.

Namun entah siapa yang mengajarkan bahwa rumus ini bisa dilawan dengan optimisme dan target produksi. Mungkin di ruang rapat, tanah dianggap hanya angka. Masalahnya, di Kampung Durian, tanah itu tempat orang hidup, dan mati.

Ketika publik bertanya, “Mengapa sawit di lereng securam itu?”, yang muncul justru jawaban klasik: “Ini faktor alam.” Alam selalu disalahkan karena alam tidak pernah menggelar konferensi pers untuk membantah.

Mitigasi Versi Dokumen: Indah di PowerPoint, Hilang di Tanah Longsor

Setiap perusahaan besar biasanya punya dokumen mitigasi. Berwarna biru, penuh grafik, dan dilengkapi jargon yang gemuk.

Sayangnya, dokumen itu jarang turun gunung.
Ketika bencana terjadi, ia tetap duduk manis di rak kantor, tidak ikut berlari menyelamatkan warga.

Relawan yang datang justru menemukan ketiadaan: tidak ada peta jalur, tidak ada sistem evakuasi, tidak ada infrastruktur penunjang, bahkan tidak ada petunjuk arah di lahan perusahaan besar. Satu-satunya yang banyak hanyalah kebingungan. Mitigasi tampaknya hanya aktif ketika ada auditor, bukan ketika ada mayat.

Respons Korporasi: Hadir Tanpa Rasa, Pergi Tanpa Jejak

Bantuan datang, tapi rasanya seperti formalitas. Seolah bukan untuk menyelamatkan,
melainkan agar tidak terlihat sama sekali tidak hadir.

Warga dan relawan melihat sesuatu yang ganjil: kehadiran perusahaan lebih mirip acara kunjungan, bukan rasa tanggung jawab. Ada rompi, ada dokumentasi, ada kalimat standar. Yang tidak ada adalah kehadiran moral.

Beberapa warga bahkan membisikkan, “Kalau begini caranya, mungkin tenda darurat lebih tulus daripada pernyataan resmi.”

Hukum Lingkungan: Nyawa Sudah Hilang, Tapi Negara Seperti Menunggu Undangan Resmi

Para ahli hukum tahu: dugaan kelalaian korporasi yang menyebabkan korban jiwa tidak perlu aduan.

Tapi entah mengapa, di lapangan, penegakan hukum sering tampil paling akhir. Seolah aparat harus memastikan dulu apakah publik benar-benar ingin keadilan, padahal mereka baru saja kehilangan keluarga.

Ini semacam ironi administratif: semua pihak sibuk memastikan prosedur terpenuhi,
sementara fakta keras sudah tergeletak di tanah. Negara seperti menunggu izin untuk peduli.

Duka Warga: Tidak Bisa Dilap Pakai Rilis Pers

Di dusun yang luluh lantak itu: ada ibu yang kehilangan dua anaknya, ada keluarga yang tidak lagi punya rumah, ada anak-anak yang ketakutan setiap kali langit menggelap.

Tetapi entah bagaimana, selalu saja ada pihak yang merasa tragedi bisa diobati dengan satu kalimat: “Ini murni bencana alam.” Kalimat yang lebih cocok dipakai untuk menutupi kegagalan manusia.

Penutup: Jika 22 Nyawa Masih Tidak Cukup, Lalu Berapa Lagi Harga Sebuah Evaluasi?

Tragedi Kampung Durian adalah refleksi pahit tentang bagaimana tanah dikelola, bagaimana risiko diabaikan, dan bagaimana manusia baru dilihat ketika sudah menjadi angka kematian.

Publik tidak menuntut banyak, hanya kejujuran, evaluasi, dan tanggung jawab. Jika itu saja dianggap berlebihan, maka kita sedang menunggu bencana berikutnya dengan pasrah, karena bukit tidak pernah salah membaca arah air, tapi manusia sering salah membaca batas keserakahan. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Penabalan Tongku Somba Sebagai Raja Huta Tambusai Timur Berjalan Sukses Dan Meriah

3 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Polres Rokan Hulu Monitoring Jagung Usia 64 Hari, Opimalisasi Program Ketahanan Pangan Nasional

3 Agustus 2026 - 22:31 WIB

Polda Riau Siapkan Pusat Studi Kepolisian dan Lingkungan, Perkuat Green Policing Berbasis Riset

24 Juli 2026 - 08:39 WIB

Penuh Keakraban, Kapolres Langkat Bersilaturahmi dengan Ketua DPRD

20 Juli 2026 - 21:07 WIB

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kapolres Langkat Bersama Jajaran TNI dan Forkopimda Hadiri Panen Raya Virtual di Sirapit

20 Juli 2026 - 21:05 WIB

Kapolres Langkat Tinjau Ketersediaan BBM di SPBU Perdamaian Stabat, Antrean Mulai Berangsur Normal

19 Juli 2026 - 22:02 WIB

Bangun Sinergi Penegakan Hukum, Kapolres Langkat Jalin Silaturahmi ke Plt Bupati Langkat,dan Kejari

17 Juli 2026 - 12:37 WIB

Pisah Sambut Kapolres Langkat, AKBP David Triyo: Terimakasih Atas Dukungan Selama Ini

17 Juli 2026 - 12:36 WIB

SMKN 1 Tanjung Pura Resmi Batalkan Kutipan Uang Baju Uniform dan Baju Olahraga

17 Juli 2026 - 12:30 WIB

Pastikan Distribusi BBM Lancar, Polda Sumut Siagakan 786 Personel di 325 SPBU

17 Juli 2026 - 12:30 WIB

Banyak Guru Honorer Madrasah di Asahan Lulus Sertifikasi Angkatan ke-4, Menanti Kepastian Pencairan Tunjangan Profesi

16 Juli 2026 - 01:18 WIB

Ketidaksesuaian Penyaluran Bantuan Masyarakat Muncul di Desa Hutarao, Sinyalemen Penyalahgunaan Menguat

16 Juli 2026 - 01:15 WIB

Pembangunan Jembatan Aramco di Desa Botombawo Nias Utara telah Rampung

14 Juli 2026 - 08:10 WIB

Pendidikan di Pedalaman Terus Diperkuat, Satgas Bakti TNI Kebut Pembangunan SMPN 4 Ulu Idanotae

14 Juli 2026 - 08:09 WIB

Kepala sekolah SMA N 1 Ranto Baek diduga Gelapkan Bantuan PIP

14 Juli 2026 - 02:13 WIB

UPTD Puskesmas Kayulaut Gelar Pembekalan dan Evaluasi PMT

13 Juli 2026 - 23:06 WIB

Bendera merah putih robek dan kusam berkibar di Kantor Desa Batang Baruhar Paluta

1 Juli 2026 - 15:29 WIB

Jalinsum Hutaraja Tinggi Lumpuh

1 Juli 2026 - 15:25 WIB

Bhayangkara Sport Day Fun Run 5K, Polres Langkat 

29 Juni 2026 - 11:24 WIB

Gelombang Aksi Juni 2026: Aspirasi Rakyat atau Krisis Kepercayaan terhadap Pemerintah?

27 Juni 2026 - 01:38 WIB

Trending di Lintas Peristiwa