Menu

Mode Gelap
Barang Bukti Curanmor Diserahkan, Polres Rohul Bantu Warga Tanpa Dipungut Biaya Sidang Vonis Seumur Hidup Darwis Harahap Dikawal Ketat, Ratusan Warga Padang Lawas Utara Penuhi PN Padangsidimpuan Imigrasi Belawan Hadirkan Pasporia Saat Car Free Day, Warga Bisa Urus Paspor di Hari Libur Penabalan Tongku Somba Sebagai Raja Huta Tambusai Timur Berjalan Sukses Dan Meriah Polres Rokan Hulu Monitoring Jagung Usia 64 Hari, Opimalisasi Program Ketahanan Pangan Nasional Aktivis Soroti Informasi Publik BNCT, Minta Kondisi Operasional Disampaikan Secara Transparan Sesuai Fakta Lapangan

Lintas Peristiwa

Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka

badge-check


					Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Tanah longsor yang menyapu Kampung Durian, Batu Godang, dan bencana banjir bandang di Garoga, Huta Godang, Aek Ngadol, Batu Horing, serta sejumlah kawasan lain di Tapanuli Selatan bukan sekadar bencana alam. Ia adalah surat peringatan keras dari hulu yang sudah bosan diperlakukan sebagai komoditas dan ladang ekspansi.

Dalam tragedi yang menewaskan 85 orang, membuat 30 orang hilang entah ke mana, merusak 1.704 rumah, dan memaksa 7.248 jiwa mengungsi, publik kembali disuguhkan drama klasik: air mata korban di lapangan, rapat darurat pejabat di ruangan berpendingin, dan kalimat standar yang sudah direvisi puluhan kali sebelum diucapkan ke kamera: “Ini murni akibat cuaca ekstrem.”

Padahal semua tahu, kadang alam hanya mengirimkan hujan, manusia lah yang menciptakan bencana.

Hulu yang Lapar, Lereng yang Patah, dan Tata Ruang yang Menyerah

Hujan ekstrem memang turun. Tetapi hujan tidak pernah meminta bukit-bukit digunduli. Tidak pernah meminta hutan diganti pola kotak-kotak monokultur. Tidak pernah meminta bekas konsesi dibiarkan menganga seperti perangkap maut.

Warga mengulang kisah yang sama: “Dulu air naik. Sekarang air datang membawa apa pun yang dipotong dari hulu.”

Di antara serpihan rumah, tersangkut gelondongan kayu besar. Bukan ranting. Bukan dahan. Kayu besar—ukuran yang tidak tumbuh di pinggir halaman rumah warga. Ukuran yang menandakan ada sesuatu di hulu yang berdiri terlalu lama dan tumbang terlalu cepat.

Ketika Perizinan Berlari, Pengawasan Merangkak

Selama satu dekade lebih, perubahan tutupan lahan di Tapsel berjalan seperti lomba sprint. Perizinan, pembukaan kebun, dan ekspansi lahan berlari secepat mungkin. Sebaliknya, pengawasan dan audit lingkungan datang menyusul dengan napas terengah-engah.

Di beberapa titik, lereng dibuka tanpa terasering. Di titik lain, lahan dibiarkan berlubang-lubang seperti permukaan bulan.
Semuanya berdiri di atas satu asumsi optimistis: “Ah, mungkin tidak akan hujan terlalu deras.”

Dan ketika hujan datang, tebing pun runtuh—bukan karena hujan, melainkan karena keserakahan yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar.

Sistem Peringatan Dini: Ada Di Laporan, Tidak Ada Di Lapangan

BMKG sudah memberikan peringatan cuaca ekstrem. Tapi peringatan itu berhenti di layar monitor dan lembar laporan.

Tidak ada sirene.
Tidak ada pengeras suara desa. Tidak ada evakuasi dini.

Padahal perkiraan jeda antara hujan ekstrem di hulu dan banjir tiba di hilir mencapai enam jam—waktu yang cukup panjang untuk memindahkan manusia dari bahaya, kalau saja bahaya tidak dianggap sekadar “informasi cuaca”.

Di lapangan, sebagian warga hanya tahu banjir datang ketika aliran sungai berubah warna—sebuah early warning system yang diciptakan alam, karena manusia lupa membangun versinya sendiri.

Jejak Kayu Besar, Lumpur Pekat, dan Pertanyaan yang Tak Mau Padam

Gelondongan-gelondongan kayu yang terseret banjir menciptakan teka-teki yang jawabannya semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani mengucapkan bulat-bulat.

Kayu itu terlalu besar untuk disebut “ranting hanyut”. Terlalu banyak untuk disebut “kebetulan”. Terlalu rapi untuk disebut “semak belukar hanyut”.

Pertanyaan publik sederhana: Jika kawasan hulu dilindungi, kenapa kayu sebesar itu bisa bebas ikut arus?

Jawaban resminya biasanya lebih rumit dari kenyataannya. Dan biasanya, yang disalahkan tetap hujan.

85 Nyawa, 30 Hilang, 7.248 Pengungsi: Apakah Ini Baru Cukup Untuk Memaksa Perubahan?

Tapsel kini menghadapi kerusakan yang tidak bisa ditambal dengan kunjungan pejabat, konferensi pers, atau janji normalisasi sungai.
Yang rusak bukan hanya rumah—1.704 unit—tetapi kepercayaan warga kepada sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Rekomendasi yang disuarakan publik dan para ahli kini menjadi nyaring:

1. Audit tutupan lahan dan perizinan yang dibuka ke publik — bukan hanya ke meja rapat.
2. Restorasi dan rehabilitasi DAS yang benar-benar memulihkan, bukan seremoni menanam bibit.
3. Early warning system desa—bukan sekadar jargon, tapi perangkat yang hidup.
4. Penegakan hukum yang menyentuh pelaku besar, bukan sekadar pekerja lapangan.
5. Relokasi zona merah secara permanen—bukan janji yang diulang setiap musim hujan.

Bencana Datang dari Langit, Tetapi Kerentanan Datang dari Kebijakan

Banjir dan longsor di Tapanuli Selatan adalah tragedi yang menyisakan luka kolektif:

85 meninggal, 30 hilang, 1.704 rumah rusak, 7.248 mengungsi.

Angka-angka itu seharusnya cukup untuk membungkam narasi “ini sekadar musibah alam”. Alam hanya melakukan bagiannya: menurunkan hujan.
Yang gagal melakukan bagiannya adalah manusia—yang membabat, menambang, menunda, dan meremehkan.

Di antara puing-puing yang tersisa, satu kalimat bergema:
“Bencana ini mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Tapi kerusakan sebesar ini bukanlah takdir—ini adalah hasil dari pilihan.”. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Penabalan Tongku Somba Sebagai Raja Huta Tambusai Timur Berjalan Sukses Dan Meriah

3 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Polres Rokan Hulu Monitoring Jagung Usia 64 Hari, Opimalisasi Program Ketahanan Pangan Nasional

3 Agustus 2026 - 22:31 WIB

Polda Riau Siapkan Pusat Studi Kepolisian dan Lingkungan, Perkuat Green Policing Berbasis Riset

24 Juli 2026 - 08:39 WIB

Penuh Keakraban, Kapolres Langkat Bersilaturahmi dengan Ketua DPRD

20 Juli 2026 - 21:07 WIB

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Kapolres Langkat Bersama Jajaran TNI dan Forkopimda Hadiri Panen Raya Virtual di Sirapit

20 Juli 2026 - 21:05 WIB

Kapolres Langkat Tinjau Ketersediaan BBM di SPBU Perdamaian Stabat, Antrean Mulai Berangsur Normal

19 Juli 2026 - 22:02 WIB

Bangun Sinergi Penegakan Hukum, Kapolres Langkat Jalin Silaturahmi ke Plt Bupati Langkat,dan Kejari

17 Juli 2026 - 12:37 WIB

Pisah Sambut Kapolres Langkat, AKBP David Triyo: Terimakasih Atas Dukungan Selama Ini

17 Juli 2026 - 12:36 WIB

SMKN 1 Tanjung Pura Resmi Batalkan Kutipan Uang Baju Uniform dan Baju Olahraga

17 Juli 2026 - 12:30 WIB

Pastikan Distribusi BBM Lancar, Polda Sumut Siagakan 786 Personel di 325 SPBU

17 Juli 2026 - 12:30 WIB

Banyak Guru Honorer Madrasah di Asahan Lulus Sertifikasi Angkatan ke-4, Menanti Kepastian Pencairan Tunjangan Profesi

16 Juli 2026 - 01:18 WIB

Ketidaksesuaian Penyaluran Bantuan Masyarakat Muncul di Desa Hutarao, Sinyalemen Penyalahgunaan Menguat

16 Juli 2026 - 01:15 WIB

Pembangunan Jembatan Aramco di Desa Botombawo Nias Utara telah Rampung

14 Juli 2026 - 08:10 WIB

Pendidikan di Pedalaman Terus Diperkuat, Satgas Bakti TNI Kebut Pembangunan SMPN 4 Ulu Idanotae

14 Juli 2026 - 08:09 WIB

Kepala sekolah SMA N 1 Ranto Baek diduga Gelapkan Bantuan PIP

14 Juli 2026 - 02:13 WIB

UPTD Puskesmas Kayulaut Gelar Pembekalan dan Evaluasi PMT

13 Juli 2026 - 23:06 WIB

Bendera merah putih robek dan kusam berkibar di Kantor Desa Batang Baruhar Paluta

1 Juli 2026 - 15:29 WIB

Jalinsum Hutaraja Tinggi Lumpuh

1 Juli 2026 - 15:25 WIB

Bhayangkara Sport Day Fun Run 5K, Polres Langkat 

29 Juni 2026 - 11:24 WIB

Gelombang Aksi Juni 2026: Aspirasi Rakyat atau Krisis Kepercayaan terhadap Pemerintah?

27 Juni 2026 - 01:38 WIB

Trending di Lintas Peristiwa