Menu ✖

Mode Gelap
Ops Patuh Toba 2026: Kapolres Langkat Bagi-Bagi Helm Gratis Dan Cokelat Ke Pengguna Jalan PELAKSANAAN UPACARA MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA SDN. 0707 ALIAGA II Polsek Pangkalan Susu Gencarkan Patroli Dialogis, Wujudkan Kamtibmas Aman dan Kondusif Bupati Madina Ingatkan Sarjana Harus Tetap Belajar di Tengah Kemajuan Teknologi Viral Penganiayaan di Gunung Tua Berlanjut di Polres Madina KEPALA SEKOLAH SD.NEGERI 1204 PADANG HASIOR KEC.SIHAPAS BARUMUN KAB.PADANG LAWAS MENERAPKAN KEDISIPLINAN MELALUI SHOLAT BERJAMAAH

Lintas Peristiwa

Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka

badge-check


					Tragedi 85 Nyawa: Catatan yang Tak Akan Selesai Jika Hulu Tetap Dibuka Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Tanah longsor yang menyapu Kampung Durian, Batu Godang, dan bencana banjir bandang di Garoga, Huta Godang, Aek Ngadol, Batu Horing, serta sejumlah kawasan lain di Tapanuli Selatan bukan sekadar bencana alam. Ia adalah surat peringatan keras dari hulu yang sudah bosan diperlakukan sebagai komoditas dan ladang ekspansi.

Dalam tragedi yang menewaskan 85 orang, membuat 30 orang hilang entah ke mana, merusak 1.704 rumah, dan memaksa 7.248 jiwa mengungsi, publik kembali disuguhkan drama klasik: air mata korban di lapangan, rapat darurat pejabat di ruangan berpendingin, dan kalimat standar yang sudah direvisi puluhan kali sebelum diucapkan ke kamera: “Ini murni akibat cuaca ekstrem.”

Padahal semua tahu, kadang alam hanya mengirimkan hujan, manusia lah yang menciptakan bencana.

Hulu yang Lapar, Lereng yang Patah, dan Tata Ruang yang Menyerah

Hujan ekstrem memang turun. Tetapi hujan tidak pernah meminta bukit-bukit digunduli. Tidak pernah meminta hutan diganti pola kotak-kotak monokultur. Tidak pernah meminta bekas konsesi dibiarkan menganga seperti perangkap maut.

Warga mengulang kisah yang sama: “Dulu air naik. Sekarang air datang membawa apa pun yang dipotong dari hulu.”

Di antara serpihan rumah, tersangkut gelondongan kayu besar. Bukan ranting. Bukan dahan. Kayu besar—ukuran yang tidak tumbuh di pinggir halaman rumah warga. Ukuran yang menandakan ada sesuatu di hulu yang berdiri terlalu lama dan tumbang terlalu cepat.

Ketika Perizinan Berlari, Pengawasan Merangkak

Selama satu dekade lebih, perubahan tutupan lahan di Tapsel berjalan seperti lomba sprint. Perizinan, pembukaan kebun, dan ekspansi lahan berlari secepat mungkin. Sebaliknya, pengawasan dan audit lingkungan datang menyusul dengan napas terengah-engah.

Di beberapa titik, lereng dibuka tanpa terasering. Di titik lain, lahan dibiarkan berlubang-lubang seperti permukaan bulan.
Semuanya berdiri di atas satu asumsi optimistis: “Ah, mungkin tidak akan hujan terlalu deras.”

Dan ketika hujan datang, tebing pun runtuh—bukan karena hujan, melainkan karena keserakahan yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar.

Sistem Peringatan Dini: Ada Di Laporan, Tidak Ada Di Lapangan

BMKG sudah memberikan peringatan cuaca ekstrem. Tapi peringatan itu berhenti di layar monitor dan lembar laporan.

Tidak ada sirene.
Tidak ada pengeras suara desa. Tidak ada evakuasi dini.

Padahal perkiraan jeda antara hujan ekstrem di hulu dan banjir tiba di hilir mencapai enam jam—waktu yang cukup panjang untuk memindahkan manusia dari bahaya, kalau saja bahaya tidak dianggap sekadar “informasi cuaca”.

Di lapangan, sebagian warga hanya tahu banjir datang ketika aliran sungai berubah warna—sebuah early warning system yang diciptakan alam, karena manusia lupa membangun versinya sendiri.

Jejak Kayu Besar, Lumpur Pekat, dan Pertanyaan yang Tak Mau Padam

Gelondongan-gelondongan kayu yang terseret banjir menciptakan teka-teki yang jawabannya semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani mengucapkan bulat-bulat.

Kayu itu terlalu besar untuk disebut “ranting hanyut”. Terlalu banyak untuk disebut “kebetulan”. Terlalu rapi untuk disebut “semak belukar hanyut”.

Pertanyaan publik sederhana: Jika kawasan hulu dilindungi, kenapa kayu sebesar itu bisa bebas ikut arus?

Jawaban resminya biasanya lebih rumit dari kenyataannya. Dan biasanya, yang disalahkan tetap hujan.

85 Nyawa, 30 Hilang, 7.248 Pengungsi: Apakah Ini Baru Cukup Untuk Memaksa Perubahan?

Tapsel kini menghadapi kerusakan yang tidak bisa ditambal dengan kunjungan pejabat, konferensi pers, atau janji normalisasi sungai.
Yang rusak bukan hanya rumah—1.704 unit—tetapi kepercayaan warga kepada sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Rekomendasi yang disuarakan publik dan para ahli kini menjadi nyaring:

1. Audit tutupan lahan dan perizinan yang dibuka ke publik — bukan hanya ke meja rapat.
2. Restorasi dan rehabilitasi DAS yang benar-benar memulihkan, bukan seremoni menanam bibit.
3. Early warning system desa—bukan sekadar jargon, tapi perangkat yang hidup.
4. Penegakan hukum yang menyentuh pelaku besar, bukan sekadar pekerja lapangan.
5. Relokasi zona merah secara permanen—bukan janji yang diulang setiap musim hujan.

Bencana Datang dari Langit, Tetapi Kerentanan Datang dari Kebijakan

Banjir dan longsor di Tapanuli Selatan adalah tragedi yang menyisakan luka kolektif:

85 meninggal, 30 hilang, 1.704 rumah rusak, 7.248 mengungsi.

Angka-angka itu seharusnya cukup untuk membungkam narasi “ini sekadar musibah alam”. Alam hanya melakukan bagiannya: menurunkan hujan.
Yang gagal melakukan bagiannya adalah manusia—yang membabat, menambang, menunda, dan meremehkan.

Di antara puing-puing yang tersisa, satu kalimat bergema:
“Bencana ini mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Tapi kerusakan sebesar ini bukanlah takdir—ini adalah hasil dari pilihan.”. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Ops Patuh Toba 2026: Kapolres Langkat Bagi-Bagi Helm Gratis Dan Cokelat Ke Pengguna Jalan

6 November 2026 - 21:35 WIB

PELAKSANAAN UPACARA MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA SDN. 0707 ALIAGA II

6 November 2026 - 00:20 WIB

Polsek Pangkalan Susu Gencarkan Patroli Dialogis, Wujudkan Kamtibmas Aman dan Kondusif

6 November 2026 - 00:19 WIB

Viral Penganiayaan di Gunung Tua Berlanjut di Polres Madina

31 Oktober 2026 - 13:06 WIB

KEPALA SEKOLAH SD.NEGERI 1204 PADANG HASIOR KEC.SIHAPAS BARUMUN KAB.PADANG LAWAS MENERAPKAN KEDISIPLINAN MELALUI SHOLAT BERJAMAAH

31 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Kepala SD Negeri 012 Simangambat Jalin Percintaan Romantis

31 Oktober 2026 - 13:05 WIB

Ismail Dalimuthe, Jalur Menuju TPA Panyanbungan Barat Sedang Diperbaiki

18 Oktober 2026 - 23:38 WIB

Minggu Kasih di Gereja HKBP Stabat, Kapolres Langkat Ajak Jemaat Bersama Jaga Kamtibmas

18 Oktober 2026 - 23:37 WIB

KEPALA SEKOLAH SD.NEGERI 1204 PADANG HASIOR KEC.SIHAPAS BARUMUN KAB.PADANG LAWAS MENERAPKAN KEDISIPLINAN MELALUI SHOLAT BERJAMAAH

16 Oktober 2026 - 01:41 WIB

Bunda Paud Madina Serahkan Bantuan untuk Siswa SLB

15 Oktober 2026 - 01:36 WIB

Gilaa, Arogansi Pengelola Taman Malibu Indah, Warga Dijadikan “Tahanan” di Rumah Sendiri

13 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Polres Binjai dan Lions Club Bantu Masyarakat, Gelar Operasi Katarak Gratis Sambut HKGB Ke-74

11 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Musdes Liar Pengangkatan Pj Kades Huta Lancar Tanpa Sepengetahuan Camat Pakantan

10 Oktober 2026 - 22:32 WIB

Bupati Saipullah Minta KONI Siapkan Cabor Unggulan untuk Porprov 2026

7 Oktober 2026 - 03:19 WIB

Harun Ridwan Pimpin Ketua KONI Madina Masa Bakti 2026-2030

7 Oktober 2026 - 03:13 WIB

AKSI DEMO, PULUHAN WARGA BANDAR LABUHAN TANJUNG MORAWA HADANG DUMP TRUCK GALIAN C MELEBIHI TONASE

7 Oktober 2026 - 03:10 WIB

Program Strategis Presiden Prabowo, Dicedrai dengan Arogansi Ka SPPG dan Yayasan, 4 Pencuci Omprengan SPPG Medan Tembung 3 Di-PHK Kilat Langgar SOP BGN

6 Oktober 2026 - 00:48 WIB

Di Reses III Edi Anwar Sapa Masyarakat Roburan Dolok Dan Santuni Anak Yatim

4 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Wakil Bupati Paluta Resmi Buka Muscab III FSPTSI-KSPSI, Tekankan Pentingnya Kesejahteraan Buruh

28 September 2026 - 18:16 WIB

Warga Batang Pane II Didampingi Kuasa Hukum Datangi Polres Paluta, Minta Kejelasan Laporan Penggelapan Tanah

28 September 2026 - 18:14 WIB

Trending di Lintas Peristiwa