Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –
Tanah longsor yang menyapu Kampung Durian, Batu Godang, dan bencana banjir bandang di Garoga, Huta Godang, Aek Ngadol, Batu Horing, serta sejumlah kawasan lain di Tapanuli Selatan bukan sekadar bencana alam. Ia adalah surat peringatan keras dari hulu yang sudah bosan diperlakukan sebagai komoditas dan ladang ekspansi.
Dalam tragedi yang menewaskan 85 orang, membuat 30 orang hilang entah ke mana, merusak 1.704 rumah, dan memaksa 7.248 jiwa mengungsi, publik kembali disuguhkan drama klasik: air mata korban di lapangan, rapat darurat pejabat di ruangan berpendingin, dan kalimat standar yang sudah direvisi puluhan kali sebelum diucapkan ke kamera: “Ini murni akibat cuaca ekstrem.”
Padahal semua tahu, kadang alam hanya mengirimkan hujan, manusia lah yang menciptakan bencana.
Hulu yang Lapar, Lereng yang Patah, dan Tata Ruang yang Menyerah
Hujan ekstrem memang turun. Tetapi hujan tidak pernah meminta bukit-bukit digunduli. Tidak pernah meminta hutan diganti pola kotak-kotak monokultur. Tidak pernah meminta bekas konsesi dibiarkan menganga seperti perangkap maut.
Warga mengulang kisah yang sama: “Dulu air naik. Sekarang air datang membawa apa pun yang dipotong dari hulu.”
Di antara serpihan rumah, tersangkut gelondongan kayu besar. Bukan ranting. Bukan dahan. Kayu besar—ukuran yang tidak tumbuh di pinggir halaman rumah warga. Ukuran yang menandakan ada sesuatu di hulu yang berdiri terlalu lama dan tumbang terlalu cepat.
Ketika Perizinan Berlari, Pengawasan Merangkak
Selama satu dekade lebih, perubahan tutupan lahan di Tapsel berjalan seperti lomba sprint. Perizinan, pembukaan kebun, dan ekspansi lahan berlari secepat mungkin. Sebaliknya, pengawasan dan audit lingkungan datang menyusul dengan napas terengah-engah.
Di beberapa titik, lereng dibuka tanpa terasering. Di titik lain, lahan dibiarkan berlubang-lubang seperti permukaan bulan.
Semuanya berdiri di atas satu asumsi optimistis: “Ah, mungkin tidak akan hujan terlalu deras.”
Dan ketika hujan datang, tebing pun runtuh—bukan karena hujan, melainkan karena keserakahan yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar.
Sistem Peringatan Dini: Ada Di Laporan, Tidak Ada Di Lapangan
BMKG sudah memberikan peringatan cuaca ekstrem. Tapi peringatan itu berhenti di layar monitor dan lembar laporan.
Tidak ada sirene.
Tidak ada pengeras suara desa. Tidak ada evakuasi dini.
Padahal perkiraan jeda antara hujan ekstrem di hulu dan banjir tiba di hilir mencapai enam jam—waktu yang cukup panjang untuk memindahkan manusia dari bahaya, kalau saja bahaya tidak dianggap sekadar “informasi cuaca”.
Di lapangan, sebagian warga hanya tahu banjir datang ketika aliran sungai berubah warna—sebuah early warning system yang diciptakan alam, karena manusia lupa membangun versinya sendiri.
Jejak Kayu Besar, Lumpur Pekat, dan Pertanyaan yang Tak Mau Padam
Gelondongan-gelondongan kayu yang terseret banjir menciptakan teka-teki yang jawabannya semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani mengucapkan bulat-bulat.
Kayu itu terlalu besar untuk disebut “ranting hanyut”. Terlalu banyak untuk disebut “kebetulan”. Terlalu rapi untuk disebut “semak belukar hanyut”.
Pertanyaan publik sederhana: Jika kawasan hulu dilindungi, kenapa kayu sebesar itu bisa bebas ikut arus?
Jawaban resminya biasanya lebih rumit dari kenyataannya. Dan biasanya, yang disalahkan tetap hujan.
85 Nyawa, 30 Hilang, 7.248 Pengungsi: Apakah Ini Baru Cukup Untuk Memaksa Perubahan?
Tapsel kini menghadapi kerusakan yang tidak bisa ditambal dengan kunjungan pejabat, konferensi pers, atau janji normalisasi sungai.
Yang rusak bukan hanya rumah—1.704 unit—tetapi kepercayaan warga kepada sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Rekomendasi yang disuarakan publik dan para ahli kini menjadi nyaring:
1. Audit tutupan lahan dan perizinan yang dibuka ke publik — bukan hanya ke meja rapat.
2. Restorasi dan rehabilitasi DAS yang benar-benar memulihkan, bukan seremoni menanam bibit.
3. Early warning system desa—bukan sekadar jargon, tapi perangkat yang hidup.
4. Penegakan hukum yang menyentuh pelaku besar, bukan sekadar pekerja lapangan.
5. Relokasi zona merah secara permanen—bukan janji yang diulang setiap musim hujan.
Bencana Datang dari Langit, Tetapi Kerentanan Datang dari Kebijakan
Banjir dan longsor di Tapanuli Selatan adalah tragedi yang menyisakan luka kolektif:
85 meninggal, 30 hilang, 1.704 rumah rusak, 7.248 mengungsi.
Angka-angka itu seharusnya cukup untuk membungkam narasi “ini sekadar musibah alam”. Alam hanya melakukan bagiannya: menurunkan hujan.
Yang gagal melakukan bagiannya adalah manusia—yang membabat, menambang, menunda, dan meremehkan.
Di antara puing-puing yang tersisa, satu kalimat bergema:
“Bencana ini mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Tapi kerusakan sebesar ini bukanlah takdir—ini adalah hasil dari pilihan.”. (AHN)
Rabu, 10 Desember 2025








