
Walikota Medan (Rico Waas-kiri) dan Gubernur Sumatera Utara (Boby Nasution-Kanan) foto-red
MITRAPOLDA.COM, Medan – Di tengah kampanye gaya hidup sehat dengan bersepeda yang mulai digaungkan Pemerintah karena efisiensi BBM, realitas pahit justru dirasakan warga Kota Medan di balik kemudi dan pedal mereka. Infrastruktur jalan yang dipenuhi lubang dan minimnya jaminan keselamatan bagi pengguna jalan kini menjadi sorotan tajam, terutama bagi masyarakat yang bermukim di wilayah Medan Utara.

Ironi “Pintu Gerbang” Ekonomi
Wilayah Medan Utara, yang selama ini dibanggakan sebagai pintu gerbang perekonomian Sumatera Utara karena keberadaan pelabuhan logistiknya, justru menyimpan risiko maut bagi warganya. Truk-truk kontainer raksasa yang beroperasi tanpa mengenal waktu—bahkan di malam sakral seperti malam takbiran—seringkali harus berbagi ruas jalan sempit yang rusak dengan kendaraan roda dua.
Minimnya pengawasan terhadap jam operasional kendaraan berat ini telah mengakibatkan kecelakaan fatal menjadi pemandangan yang tidak lagi langka. Risiko terlindas kendaraan besar hingga kehilangan nyawa membayangi setiap warga yang melintas di kawasan tersebut.

Infrastruktur Rusak dan Pelayanan Kesehatan yang Setengah Hati
Peralihan moda transportasi menjadi sepeda yang dianggap lebih “aman” dari risiko kerusakan mekanis akibat jalan berlubang, sebenarnya hanyalah bentuk satir dari keputusasaan warga.
– Risiko Fatal: Meskipun kecepatan sepeda rendah, lubang jalan tetap menjadi jebakan mematikan.
– Minim Jaminan: Warga menilai jaminan kecelakaan dari pemerintah masih sangat minim.
– Layanan RS: Keluhan mengenai pelayanan rumah sakit di Kota Medan yang dianggap belum maksimal dan seringkali terkesan “setengah hati” dalam menangani korban kecelakaan jalan raya semakin memperburuk keadaan.

Menagih Keberpihakan Kepala Daerah
Kebijakan yang benar-benar berpihak pada keselamatan rakyat kecil kini sangat dinantikan. Selama ini, perhatian pemerintah dianggap masih sebatas wacana dan pencitraan, tanpa menyentuh akar permasalahan di lapangan—yakni perbaikan jalan secara menyeluruh dan regulasi ketat bagi kendaraan berat di zona pemukiman.
Masyarakat Medan Utara berharap agar pemerintah provinsi dan kota tidak lagi menutup mata. Jangan sampai harapan akan jalanan yang layak dan aman hanya menjadi “hujan di tengah terik matahari”—sesuatu yang ada namun sangat langka untuk dirasakan.
(MDR)







