Menu

Mode Gelap
Bukan Penglaris: Mengungkap Makna Tersembunyi di Balik Foto Legendaris Ungku Saliah di Rumah Makan Padang Gema Takbir Membahana, Ribuan Peserta Meriahkan Pawai Keliling di Kecamatan Belawan Jelang Idul Fitri 1447 H, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan Umumkan Jadwal Libur dan Aturan Baru Penggunaan Gawai Yayasan Bagas Godang Siabu Gelar Santunan Anak Yatim Pemko Medan Matangkan Persiapan Sholat Idul Fitri, Takbiran dan Pawai Kendaraan Digelar di Dua Titik WJMB Minta Tegas & Hukum Faskes Yang Menolak Pasien Darurat; Banyak Faskes Belum Faham UU Kesehatan

Lintas Peristiwa

Jika 22 Nyawa Belum Cukup, Berapa Banyak Lagi agar Keserakahan Ikut Tertimbun?

badge-check


					Jika 22 Nyawa Belum Cukup, Berapa Banyak Lagi agar Keserakahan Ikut Tertimbun? Perbesar

Tapanuli Selatan | MitraPolda.com –

Kampung Durian, Desa Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kini menjadi museum terbuka tentang bagaimana sebuah tragedi bisa terjadi tepat di depan mata, namun sebagian pihak memilih menatap ke langit, menyalahkan hujan, dan berharap publik ikut pura-pura buta.

Dua puluh dua jenazah terangkat dari tanah.
Yang menguburnya memang longsor,
tetapi yang menguburkan akal sehat adalah respons dari mereka yang seharusnya bertanggung jawab mengelola tanah itu.

Bukit Runtuh, Sawit Turun Gunung, Tanggung Jawab Menguap

Ketika bukit itu jebol, sawit meluncur seolah sedang membocorkan rahasia yang selama ini ditutup rapat. Batang-batangnya tersebar di lokasi bencana seperti barang bukti yang bahkan enggan disembunyikan.

Sayangnya, bukti sering kali lebih jujur daripada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan seperti biasa dalam tradisi panjang negeri ini: yang paling cepat hadir bukan pertanggungjawaban,
melainkan narasi pembelaan.

Pola Tanam Lereng Curam: Komedi Gelap yang Sudah Diketahui Semua Orang, Kecuali Mereka yang Harusnya Tahu

Seluruh ahli sudah lama sepakat: sawit bukan penjaga lereng. Akar dangkal + bukit curam = bencana yang tinggal menunggu waktu.

Namun entah siapa yang mengajarkan bahwa rumus ini bisa dilawan dengan optimisme dan target produksi. Mungkin di ruang rapat, tanah dianggap hanya angka. Masalahnya, di Kampung Durian, tanah itu tempat orang hidup, dan mati.

Ketika publik bertanya, “Mengapa sawit di lereng securam itu?”, yang muncul justru jawaban klasik: “Ini faktor alam.” Alam selalu disalahkan karena alam tidak pernah menggelar konferensi pers untuk membantah.

Mitigasi Versi Dokumen: Indah di PowerPoint, Hilang di Tanah Longsor

Setiap perusahaan besar biasanya punya dokumen mitigasi. Berwarna biru, penuh grafik, dan dilengkapi jargon yang gemuk.

Sayangnya, dokumen itu jarang turun gunung.
Ketika bencana terjadi, ia tetap duduk manis di rak kantor, tidak ikut berlari menyelamatkan warga.

Relawan yang datang justru menemukan ketiadaan: tidak ada peta jalur, tidak ada sistem evakuasi, tidak ada infrastruktur penunjang, bahkan tidak ada petunjuk arah di lahan perusahaan besar. Satu-satunya yang banyak hanyalah kebingungan. Mitigasi tampaknya hanya aktif ketika ada auditor, bukan ketika ada mayat.

Respons Korporasi: Hadir Tanpa Rasa, Pergi Tanpa Jejak

Bantuan datang, tapi rasanya seperti formalitas. Seolah bukan untuk menyelamatkan,
melainkan agar tidak terlihat sama sekali tidak hadir.

Warga dan relawan melihat sesuatu yang ganjil: kehadiran perusahaan lebih mirip acara kunjungan, bukan rasa tanggung jawab. Ada rompi, ada dokumentasi, ada kalimat standar. Yang tidak ada adalah kehadiran moral.

Beberapa warga bahkan membisikkan, “Kalau begini caranya, mungkin tenda darurat lebih tulus daripada pernyataan resmi.”

Hukum Lingkungan: Nyawa Sudah Hilang, Tapi Negara Seperti Menunggu Undangan Resmi

Para ahli hukum tahu: dugaan kelalaian korporasi yang menyebabkan korban jiwa tidak perlu aduan.

Tapi entah mengapa, di lapangan, penegakan hukum sering tampil paling akhir. Seolah aparat harus memastikan dulu apakah publik benar-benar ingin keadilan, padahal mereka baru saja kehilangan keluarga.

Ini semacam ironi administratif: semua pihak sibuk memastikan prosedur terpenuhi,
sementara fakta keras sudah tergeletak di tanah. Negara seperti menunggu izin untuk peduli.

Duka Warga: Tidak Bisa Dilap Pakai Rilis Pers

Di dusun yang luluh lantak itu: ada ibu yang kehilangan dua anaknya, ada keluarga yang tidak lagi punya rumah, ada anak-anak yang ketakutan setiap kali langit menggelap.

Tetapi entah bagaimana, selalu saja ada pihak yang merasa tragedi bisa diobati dengan satu kalimat: “Ini murni bencana alam.” Kalimat yang lebih cocok dipakai untuk menutupi kegagalan manusia.

Penutup: Jika 22 Nyawa Masih Tidak Cukup, Lalu Berapa Lagi Harga Sebuah Evaluasi?

Tragedi Kampung Durian adalah refleksi pahit tentang bagaimana tanah dikelola, bagaimana risiko diabaikan, dan bagaimana manusia baru dilihat ketika sudah menjadi angka kematian.

Publik tidak menuntut banyak, hanya kejujuran, evaluasi, dan tanggung jawab. Jika itu saja dianggap berlebihan, maka kita sedang menunggu bencana berikutnya dengan pasrah, karena bukit tidak pernah salah membaca arah air, tapi manusia sering salah membaca batas keserakahan. (AHN)

Rabu, 10 Desember 2025

Baca Lainnya

Jelang Idul Fitri 1447 H, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan Umumkan Jadwal Libur dan Aturan Baru Penggunaan Gawai

20 Maret 2026 - 16:44 WIB

TINDAKAN NYATA PPATK APH, ASN DAN KAJATISU ATAS SENGKETA RAKYAT TERHADAP AVANTEE RESIDENCE DIHARAPKAN SECARA TEGAS

19 Maret 2026 - 02:56 WIB

KEJARI MADINA SAMPAIKAN KETERANGAN RESMI DAN KLARIFIKASI TERKAIT ISU YANG BERKEMBANG DI MEDIA ONLINE DAN MEDIA SOSIAL PERIHAL DUGAAN KUTIPAN UANG SETORAN PENGAMANAN

17 Maret 2026 - 05:28 WIB

Satlantas Polres Langkat Patroli Jalinsum, Pastikan Arus Lalu Lintas Aman dan Lancar

15 Maret 2026 - 19:34 WIB

Konflik Avantee Residence Terus Menuai, Kajatisu dan Pemerintah di Harapkan dapat Tuntaskan Mafia Tanah

14 Maret 2026 - 19:44 WIB

Polres Langkat dan Bhayangkari Berbagi Takjil diHari ke-23 Ramadhan, Wujud Kepedulian kepada Masyarakat

14 Maret 2026 - 19:41 WIB

Kapolres Langkat Buka Puasa Bersama Insan Media dan LSM, Perkuat Sinergi Jaga Kondusivitas

14 Maret 2026 - 19:40 WIB

Temu Kangen dan Buka Puasa Bersama antara Anak & Ayah.FKPPI Rayon Tanjung Morawa dengan Kapendam I/BB Pererat Silaturahmitemu k

14 Maret 2026 - 05:08 WIB

Jelang Idul Fitri 1447 H, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan Umumkan Jadwal Libur dan Aturan Baru Penggunaan Gawai

13 Maret 2026 - 01:22 WIB

Tadarus Bersama Jadi Ruang Konsolidasi Rohani Kader HIMMAH di Kampus IPTS

13 Maret 2026 - 01:21 WIB

Pangdam I/BB Serahkan Randis Dukungan Kemhan RI dan Sosialisasikan Insinerator

13 Maret 2026 - 01:19 WIB

Polda Riau Amankan Heroin dari Dua Tersangka di Bengkalis, Ditaksir Bernilai Rp68 Miliar

10 Maret 2026 - 19:44 WIB

Polsek Panyabungan Sambut Kunjungan Kerja Kapolres Madina dengan Buka Bersama dan Santunan Anak Yatim

6 Maret 2026 - 04:54 WIB

Kabareskrim Apresiasi Kinerja Polda Riau Dalam Penanganan Karhutla, Minta Tindak Tegas Pelaku Pembakaran

6 Maret 2026 - 04:53 WIB

Angkatan 2004 Gel II (ZED-STP) Polresta Pekanbaru Laksanakan Buka Puasa Bersama dan Penetapan Ketua Baru

4 Maret 2026 - 19:26 WIB

Fraksi PDIP DPRD Sumut Minta BPK-RI Audit Lapangan Merdeka

3 Maret 2026 - 22:10 WIB

Polda Riau Tangkap Sindikat Pembunuh Gajah Tanpa Kepala

3 Maret 2026 - 21:48 WIB

CitraLand Tanjung Morawa Gelar Ramadhan Fair 2026, Hadirkan Bazar Dan Bantuan Sosial

28 Februari 2026 - 14:34 WIB

SAFARI RAMADHAN DI KECAMATAN SOSA TIMUR MASYARAKAT MINTA INFRASTRUKTUR JALAN JADI PRIORITAS

28 Februari 2026 - 03:10 WIB

Beranikah Polda Riau Tangkap Makelar Kasus di Riau

24 Februari 2026 - 21:46 WIB

Trending di Headline