Padangsidimpuan | MitraPolda.com
Ia lahir jauh sebelum kata “kebebasan pers” menjadi jargon. Tahun 1861, di Padang Sidempuan, seorang anak bernama Dja Endar Moeda Harahap tumbuh dalam dunia kolonial yang membatasi suara pribumi. Namun justru dari keterbatasan itulah, kelak lahir seorang perintis pers Melayu yang berani menyalakan cahaya melalui kata-kata.
Pendidikan membawanya ke Kweekschool Padang Sidimpuan, sekolah guru yang dirintis Willem Iskander. Di sanalah Dja Endar Moeda ditempa oleh disiplin ilmu dan bahasa, termasuk berguru kepada C. A. van Ophuijsen, sosok penting dalam sejarah bahasa Melayu. Dari ruang kelas, langkahnya kemudian bergerak ke dunia pers—sebuah medan yang kala itu tidak ramah bagi bumiputra.
Karier jurnalistiknya dimulai pada 1887 sebagai redaktur Soeloeh Pengadjar, jurnal pendidikan berbahasa Belanda. Ia memahami bahwa pena bukan sekadar alat tulis, melainkan sarana membangun kesadaran. Sebagai guru, ia mengajar di Air Bangis dan Batahan. Sebagai jurnalis, ia menulis untuk membuka pikiran.
Tahun 1892 menjadi titik balik. Ia menunaikan ibadah haji dan sepulangnya mengganti nama menjadi Haji Muhammad Saleh. Sejak 1893, Padang menjadi rumah baru sekaligus pusat perjuangannya. Di kota ini, ia mendirikan sekolah swasta dan menjadi penggerak pers Melayu melalui Pertja Barat—surat kabar yang kelak menjadikannya pribumi pertama pemilik media cetak di wilayahnya.
Di bawah kepemimpinannya, Pertja Barat bukan koran yang jinak. Ia keras, kritis, dan sering kali tajam. Isu pendidikan bumiputra, peran perempuan, adat, hingga kritik terhadap elite priyayi dan kolonial menjadi sajian rutin. Sikap ini membuatnya tak jarang berselisih dengan sesama tokoh pers, bahkan berhadapan langsung dengan hukum kolonial melalui delik pers.
Namun Dja Endar Moeda tak pernah mundur. Ketika diusir dari Padang, ia berpindah ke Kutaraja (Banda Aceh) dan menerbitkan Pemberita Atjeh pada 1906—surat kabar Melayu pertama di Aceh. Dari Aceh ke Medan, dari Padang ke Batavia, jejaknya menyebar melalui media-media seperti Insulinde, Tapian Na Oeli, Warta Berita, Minangkabaoe, hingga Pewarta Deli.
Pewarta Deli yang terbit pada 1910 mencatat sejarah penting: surat kabar Melayu pertama di Medan yang dimiliki dan dipimpin oleh pribumi, dengan redaksi yang didominasi orang Mandailing dan Angkola. Bagi Dja Endar Moeda, pers bukan sekadar usaha, tetapi alat perjuangan kolektif.
Ia juga meninggalkan warisan intelektual melalui buku “Riwayat Poelaoe Soematra” (1903), sebuah karya yang kelak menjadi rujukan penting dalam perdebatan sejarah dan identitas di Sumatra. Tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa jurnalis sejati tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga merawat ingatan dan makna.
Hidupnya tak lepas dari tekanan, konflik, dan pengorbanan. Beberapa kali ia dipenjara, dihukum, dan disingkirkan. Namun sejarah mencatat: pers bumiputra tumbuh karena keberanian tokoh-tokoh seperti Dja Endar Moeda Harahap.
Ia wafat pada 1926 di Kutaraja, jauh dari tanah kelahirannya. Tetapi pikirannya terus hidup—dalam setiap upaya jurnalis Indonesia menjaga marwah profesi.
Pengakuan negara datang kemudian. Pada Hari Pers Nasional 2023 di Medan, ia dianugerahi Penghargaan Kepeloporan Bidang Media secara anumerta. Sebuah penghormatan yang menegaskan posisinya sebagai salah satu fondasi pers nasional.
Memperingati Hari Pers Nasional 2026, nama Dja Endar Moeda Harahap layak kembali disebut. Sebab sebelum pers merdeka, ada mereka yang lebih dulu berani—menulis di bawah bayang-bayang kekuasaan, demi suara yang tak boleh dibungkam.(AHN)








