Tapsel | MitraPolda.com –
BNPB kirim 100 senso dan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan pascabanjir Tapanuli Selatan (Tapsel).
Wilayah tersebut menjadi salah satu daerah terdampak paling parah di Sumatera Utara.
Upaya ini dilakukan menyusul banjir bandang yang memutus akses di sejumlah titik dan membuat penyaluran bantuan terkendala.
Kepala BNPB, Suharyanto, menjelaskan bahwa alat berat Tapanuli Selatan menjadi kebutuhan mendesak karena dua desa di wilayah itu mengalami kerusakan berat.
Bongkahan kayu gelondongan besar yang terbawa arus menghantam banyak rumah warga sehingga proses evakuasi material membutuhkan peralatan tambahan.
Menurut Suharyanto, kondisi secara umum di Sumatera Utara sudah mulai membaik, terutama di Tapanuli Selatan yang kini bisa diakses melalui jalur darat.
Pembersihan pascabanjir Tapsel dapat berjalan lebih cepat karena listrik, BBM, dan jaringan telekomunikasi mulai pulih.
Dalam konferensi pers Minggu (30/11/2025), Suharyanto menyebut bahwa permintaan Bupati Tapsel langsung ditindaklanjuti.
“Tadi Pak Bupati minta senso, kita siapkan 100 unit karena kayu-kayunya besar sekali. Kita juga kirim alat berat untuk mendukung pembersihan rumah dan lingkungan,” ujarnya.
BNPB memperkirakan proses normalisasi wilayah terdampak di Tapsel membutuhkan waktu beberapa minggu.
Selain senso dan alat berat, pemerintah juga menyalurkan 100 ton logistik, mulai dari beras, mie instan, toilet portabel, alat penjernih air hingga mobil dapur umum.
Sementara itu, kondisi di Tapanuli Tengah dan Sibolga masih memerlukan perhatian khusus.
Akses darat di dua wilayah tersebut belum pulih sepenuhnya, sehingga distribusi bantuan diprioritaskan melalui jalur laut dan udara.
Untuk komunikasi, Tapanuli Tengah kini mulai terhubung kembali setelah sejumlah perangkat Starlink dipasang di pos pengungsian.
Warga sudah dapat mengakses sinyal HP dan internet meski masih terbatas. Masalah terbesar kini berada pada sektor kelistrikan.
Banyak tower dan gardu PLN yang roboh sehingga aliran listrik sementara digantikan oleh genset.
PLN bahkan meminta dukungan satu unit helikopter untuk mengangkut peralatan ke Sibolga dan Tapteng agar pemulihan listrik bisa dipercepat.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat di Sibolga dan Tapteng mulai membersihkan rumah masing-masing karena cuaca yang bersahabat dalam beberapa hari terakhir.
“Bencana di Sibolga dan Tapteng memang parah, tapi tidak sampai melumpuhkan sepenuhnya.
Setelah tidak hujan 2–3 hari, rumah-rumah sudah mulai dibersihkan dari lumpur,” tutur Suharyanto.
BNPB optimistis distribusi logistik dan pemulihan fasilitas publik bisa berlangsung lebih cepat seiring masuknya bantuan dari pusat dan daerah.








