
Ungku Saliah, seorang ulama kharismatik asal Pasa Panjang, Sungai Sariak, yang lahir pada tahun 1887 dengan nama asli Dawik. (foto-red)
MITRAPOLDA.COM, Sumatera Barat – Pernahkah Anda memperhatikan foto seorang lelaki tua bersahaja dengan kopiah hitam dan kain sarung melingkar di leher yang terpajang di dinding Rumah Makan Padang? Bagi masyarakat awam, keberadaan foto ini sering kali dianggap sebagai “jimat penglaris”. Namun, bagi komunitas perantau Minang, khususnya dari Pariaman, anggapan tersebut adalah sebuah kekeliruan besar yang perlu diluruskan.
Sosok dalam foto tersebut adalah Ungku Saliah, seorang ulama kharismatik asal Pasa Panjang, Sungai Sariak, yang lahir pada tahun 1887 dengan nama asli Dawik. Beliau bukan sekadar tokoh agama biasa, melainkan sosok yang sangat dimuliakan karena kedalaman ilmu agama dan sifatnya yang santun.
Pajangan foto Ungku Saliah sebenarnya berfungsi sebagai “kartu identitas” visual bagi para pemilik usaha. Jika Anda melihat foto ini di sebuah rumah makan, dapat dipastikan pemiliknya berasal dari daerah Pariaman dan sekitarnya.
Ada sebuah tips unik bagi pelanggan: jika Anda menyapa pemilik rumah makan dengan sebutan “Ajo” dan ia menyahut dengan akrab, itu adalah tanda kuat ikatan persaudaraan sesama putra asli Pariaman. Foto tersebut menjadi pengikat batin antarperantau dan pengingat akan kampung halaman yang jauh di mata namun dekat di hati.
Foto legendaris ini diambil sekitar tahun 1971, tiga tahun sebelum Ungku Saliah wafat pada 3 Agustus 1974. Awalnya hanya dipajang oleh segelintir warga, namun kini telah menjadi tradisi yang meluas hingga ke mancanegara.
Ada tiga alasan utama mengapa foto ini dipajang:
– Bentuk Penghormatan (Ta’zim):
Sebagai wujud cinta murid kepada gurunya dan penghormatan terhadap ulama yang dianggap memiliki karamah.
– Teladan Moral:
Keberadaan foto tersebut menjadi pengingat bagi pedagang untuk senantiasa meneladani sifat Ungku Saliah yang jujur, rendah hati, dan taat beribadah dalam menjalankan usaha.
– Simbol Budaya:
Penanda sebuah kebudayaan yang memegang teguh nilai-nilai keislaman dan persaudaraan.
Menepis Mitos Mistis
Masyarakat Pariaman menegaskan bahwa memajang foto Ungku Saliah bukanlah ritual mistis atau upaya mencari keberuntungan secara gaib. Sebaliknya, ini adalah tentang menjaga warisan nilai dan identitas.
“Singkirkan pikiran tentang hal-hal mistis. Foto itu adalah simbol cinta dan identitas budaya yang kuat,” ungkap narasi yang beredar di kalangan masyarakat Minang.
Dengan memahami sejarah ini, diharapkan masyarakat luas tidak lagi salah kaprah dan dapat menghargai tradisi budaya yang dijunjung tinggi oleh para pengusaha kuliner Minang di seluruh penjuru nusantara.
(Red)







